Melestarikan Koteka dan Moge: Menjaga Identitas di Tengah Arus Modernitas

    
                                     "Foto ilustrasi/
Pakaian adat tradisional Papua pegunungan" 
  

Di tengah hiruk-pikuk retorika kehidupan modern dan globalisasi yang kian kencang, eksistensi busana adat seringkali terpinggirkan menjadi sekadar simbol seremonial. Bagi masyarakat pegunungan tengah Papua, Koteka (untuk pria) dan Moge (untuk wanita) bukan sekadar pakaian penutup tubuh, melainkan jati diri, harga diri, dan filosofi hidup yang mendalam.

Esensi di Balik Balutan Tradisi

Budaya adalah cermin jiwa suatu bangsa. Koteka, yang terbuat dari labu air (Lagenaria siceraria), mencerminkan ketangguhan, kejujuran, dan keselarasan dengan alam. Begitu pula dengan Moge (atau rumbai-rumbai), yang dibuat dari serat kulit kayu atau daun sagu, melambangkan keanggunan dan perlindungan terhadap kesucian wanita.

Namun, saat ini kita menyaksikan pergeseran yang mengkhawatirkan. Dalam kehidupan sehari-hari, penggunaan busana adat ini semakin jarang ditemui, terutama di wilayah perkotaan. Ada semacam tekanan sosial yang membuat generasi muda merasa "tertinggal" jika masih mempertahankan tradisi ini di ruang publik.

Mengapa Mereka "Menghilang"?

Ada beberapa faktor yang menyebabkan mulai lunturnya penggunaan Koteka dan Moge dalam keseharian:

Stigma Modernitas: Seringkali, kemajuan diukur dari cara berpakaian ala Barat. Hal ini menciptakan inferioritas terhadap produk budaya lokal. Retorika Tanpa Aksi: Banyak pihak yang berteriak tentang "Cinta Budaya" di mimbar-mimbar pidato, namun tidak memberikan ruang bagi budaya tersebut untuk bernapas dalam kebijakan publik atau kehidupan nyata. Keterbatasan Bahan Baku: Perubahan ekosistem membuat pencarian bahan baku alami untuk pembuatan Koteka dan Moge yang berkualitas menjadi lebih sulit dibandingkan masa lalu.

Strategi Pelestarian: Melampaui Kata-Kata

Untuk mencegah budaya ini hilang ditelan zaman, kita membutuhkan langkah konkret yang melampaui sekadar wacana:

1. Internalisasi dalam Pendidikan.

Budaya mengenakan Koteka dan Moge harus diajarkan bukan sebagai "masa lalu", melainkan sebagai pengetahuan botani, seni, dan filosofi. Sekolah-sekolah di Papua perlu memiliki hari khusus atau kurikulum muatan lokal yang praktis mengenai pembuatan dan makna di balik busana tersebut.

2. Digitalisasi dan Literasi Visual

Kita perlu mendokumentasikan teknik pembuatan dan tata cara penggunaan yang benar melalui media digital. Konten kreatif yang menampilkan Koteka dan Moge dalam sudut pandang estetis yang modern dapat membantu mengubah persepsi generasi muda.

3. Dukungan Kebijakan Pemerintah

Pemerintah daerah harus berani menciptakan ruang aman bagi masyarakat yang ingin tetap mengenakan busana adat di instansi resmi atau acara formal. Budaya tidak boleh hanya dipajang saat festival setahun sekali, tapi harus dirasakan kehadirannya.

4. Pariwisata Berbasis Budaya, Bukan Eksploitasi

Pariwisata harus menjadi sarana pemberdayaan pengrajin Koteka dan Moge. Wisatawan harus diajak untuk memahami nilai di baliknya, sehingga masyarakat lokal merasa bangga, bukan merasa menjadi "objek tontonan".

Penutup

Melestarikan Koteka dan Moge adalah perjuangan melawan lupa. Jika kita membiarkan identitas ini hilang, kita tidak hanya kehilangan selembar pakaian, tetapi kita kehilangan kompas sejarah. Mari kita ubah retorika mencintai budaya menjadi tindakan nyata dengan mulai menghargai, menjaga, dan memberikan ruang bagi warisan leluhur untuk tetap tegak di tanahnya sendiri.

Jaga identitas kita, sebelum identitas itu hanya menjadi dongeng bagi anak cucu.

Posting Komentar

0 Komentar