Di kursi kosong yang kini mendingin, Suaramu masih samar tertinggal di udara. Seperti gema yang enggan menjauh, Mengulang tawa yang dulu kita bagi tanpa jeda.
Dunia mendadak menjadi begitu hening, Saat langkahmu terhenti di batas waktu.
Kita belum selesai menulis cerita, Namun takdir telah menutup bukunya lebih dulu.
Sahabatku,
Terima kasih telah menjadi rumah bagi keluh kesahku, Menjadi kompas saat aku kehilangan arah, Dan menjadi saksi atas segala jatuh bangunnya hidup.
Kini, kau telah sampai di tempat di mana tak ada lagi lelah. Meski ragamu tak lagi bisa kusentuh, Kenanganmu tersimpan abadi dalam detak jantungku.
Setiap sudut kota, setiap lagu lama, Akan selalu membawaku kembali kepadamu.
Tidurlah dalam damai, di pelukan keabadian, Di antara bintang-bintang yang kini menjadi temanmu.
Aku di sini akan terus menjaga cerita kita, Hingga nanti, di ujung jalan, kita kembali bertemu.
Selamat jalan, kawan. Doaku akan selalu menjadi cahaya di istirahat panjangmu.
Ugida, 04 Januari 2026

0 Komentar