"Foto Katrin Petege" *** Tahun dua ribu dua puluh empat, sebuah langkah kecil kubuka pelan, memeluk mimpi, …
Baca selengkapnyaDi KM 95 dan 105, di pangkuan Siriwo dan Dipa, Suara leluhur bergema merobek keheningan rimba. Simapitowa bukanlah ru…
Baca selengkapnyaKondisi Halaman SD Negeri Tibai (Sebuah Seri Puisi dari SD Negeri Tibai) Di balik bukit Distrik Siriwo yang megah, …
Baca selengkapnyaFoto Pribadi Penulis Puisi Katrin Petege *** Malam lagi-lagi belum selesai, jam di dinding terus berjalan sementara …
Baca selengkapnya* Foto Pribadi Penulis Puisi Katrin Petege * **puisi** Malam datang perlahan, membawa sunyi yang begitu panjang. Lamp…
Baca selengkapnyaFoto Pribadi penulis "Ipou Luring" *** Hari ini penuh dengan sejuta sukacita, Tawa dan bahagia bergemuruh d…
Baca selengkapnyaPuisi oleh: Ipou Betapa aku sangatlah malang, Rasa pilu kembali menerjang, Kalau melihat kau berpulang. Adikku terci…
Baca selengkapnyaPuisi Wanita Paling Kuat dalam Hidupku (Amaii Butuu Apii), oleh: Katrin Petege Amaii....... Namamu selalu hidup dalam…
Baca selengkapnyaPuisi Di ambang waktu yang terus bergulir, Aku masih di sini, terpaku pada satu muara. Menghitung detik yang jatuh …
Baca selengkapnyaPuisi Di bawah langit yang hari ini menjadi saksi, Kita memahat sejarah di atas batu waktu. Bukan sekadar tawa atau…
Baca selengkapnyaPuisi Di lengkung bibirmu yang ranum itu, Ada mentari yang terbit dengan malu-malu. Cahayanya hangat, menyentuh set…
Baca selengkapnyaPuisi Di atas pasir yang memanjang di teluk ini, Langkahku berat, mengeja jejak yang mulai sunyi. Jembatan Merah be…
Baca selengkapnyaPuisi Di persimpangan yang sunyi ini, Aku berdiri menatap langit yang kian menjauh, Membawa pergi mimpi-mimpi yang du…
Baca selengkapnyaPUISI Di ufuk Dogiyai, fajar Paskah merayap malu, Tahun ini, lonceng gereja berdentang membawa pilu. Tak ada tawa yan…
Baca selengkapnyaFoto pribadi penulis Di sudut ruang yang kau sebut biasa, Aku duduk mengeja setiap gerakmu, Menyusun doa di sela taw…
Baca selengkapnyaFoto pribadi penulis Di sudut meja yang sama, aku masih memesan dua cangkir cerita, meski kepul uapnya kini hanya men…
Baca selengkapnya
Social Plugin