![]() |
| Foto Saat diskusi pelajar mahasiswa simapitowa Jayapura di Gubuk Buper P3 Waena. |
*Oleh : Melkias Buru*
"Kapan kami punya asrama sendiri?" Pertanyaan ini sering terlontar dalam diskusi-diskusi kecil mahasiswa di pinggiran Jayapura. Kerinduan ini bukanlah tanpa dasar. Kami merindukan sebuah tempat di mana kami bisa berdiskusi hingga larut malam tentang masa depan daerah kami, tempat di mana lagu-lagu daerah bisa dinyanyikan tanpa rasa sungkan, dan tempat di mana kesulitan makan pun bisa dilewati bersama dalam kebersamaan. Mimpi ini adalah tentang masa depan. Dengan adanya asrama, kita sedang memotong rantai kesulitan bagi adik-adik kita yang akan datang tahun depan, lima tahun lagi, atau sepuluh tahun ke depan.
Perjuangan menuntut ilmu di ibu kota provinsi bukanlah perkara mudah. Bagi kami, pelajar dan mahasiswa yang tergabung dalam wadah Simapitowa (Siriwo, Mapia, Piyaiye, Topo, Wanggar) di Jayapura, buku dan pena hanyalah separuh dari perjuangan. Separuh lainnya adalah perjuangan untuk bertahan hidup di tengah keterbatasan tempat tinggal yang layak. Di tengah hiruk-pikuk Kota Jayapura yang kian berkembang, tersimpan sebuah narasi perjuangan yang sunyi namun penuh semangat. Narasi itu datang dari anak-anak muda, pelajar, dan mahasiswa asal Simapitowa yang datang ke Jayapura untuk menuntut ilmu. Di balik buku-buku dan tugas kuliah, terselip sebuah kerinduan kolektif yang mendalam: hadirnya sebuah asrama swadaya.
Selama bertahun-tahun, mahasiswa dari wilayah Simapitowa harus tersebar di berbagai kos-kosan sempit atau menumpang di rumah kerabat dengan kondisi yang seringkali tidak mendukung proses belajar. Asrama bukan hanya tentang dinding dan atap; asrama adalah pusat peradaban kecil tempat kami berdiskusi, saling menjaga, dan merawat identitas budaya kami sebagai anak daerah. Kami merindukan sebuah tempat di mana kami bisa pulang tanpa rasa khawatir akan biaya sewa yang mencekik atau jarak yang terlalu jauh dari kampus.
Asrama bukan hanya soal bangunan fisik atau sekadar tempat untuk tidur. Bagi kami, asrama adalah: Rumah Persaudaraan (Keluarga Kedua): Di perantauan, asrama menjadi wadah untuk saling menjaga, mengingatkan, dan menguatkan satu sama lain sebagai satu identitas Simapitowa. Pusat Kaderisasi: Asrama adalah tempat di mana nilai-nilai adat, disiplin, dan kepemimpinan diasah di luar ruang kelas formal universitas. Solusi Ekonomi: Dengan adanya asrama swadaya, beban finansial orang tua di kampung halaman dapat diringankan, sehingga fokus utama benar-benar tertuju pada pendidikan.
Pembagunan asrama"Swadaya" Pelajar mahasiswa Simapitowa yang melekat pada mimpi ini bukan tanpa alasan. Ini adalah simbol kemandirian. Masyarakat, orang tua, dan para alumni Simapitowa bahu-membahu mengumpulkan tetes demi tetes keringat untuk mewujudkan mimpi ini. Ada kesadaran bahwa kita tidak bisa selamanya menunggu bantuan datang, melainkan harus mulai melangkah dengan apa yang kita miliki. Perjuangan ini adalah bukti bahwa komunitas Simapitowa memiliki harga diri dan tekad yang kuat untuk mencetak generasi emas. Setiap batu bata yang nantinya terpasang adalah hasil dari doa dan usaha keras kolektif.
Pembangunan asrama swadaya ini adalah investasi kemanusiaan. Kami mengetuk pintu hati semua pihak—pemerintah, tokoh masyarakat, alumni, hingga dermawan—untuk melihat bahwa ini bukan sekadar proyek bangunan, melainkan proyek masa depan peradaban masyarakat Simapitowa. Harapan kami sangat besar. Kami bermimpi suatu hari nanti, di sudut Kota Jayapura, akan berdiri sebuah bangunan yang di depannya tertulis dengan bangga: Asrama Pelajar & Mahasiswa Simapitowa. Di sanalah, calon-calon pemimpin, guru, dokter, dan intelektual dari pegunungan akan lahir dan ditempa. Mari bersatu, karena mimpi ini terlalu besar untuk dipikul sendirian, namun akan terasa ringan jika kita kerjakan bersama. Asrama ini adalah harga diri kita, masa depan kita, dan mimpi yang segera ingin kami peluk dalam kenyataan.
Harapan Besar kepada Kabupaten Nabire dan Dogiyai
Pandangan kami kini tertuju pada Pemerintah Daerah Kabupaten Nabire dan Kabupaten Dogiyai. Sebagai orang tua kami di daerah, kami sangat berharap Bapak Bupati dan jajaran pemangku kebijakan dapat mendengar rintihan ini. Kabupaten Nabire dan Dogiyai memiliki tanggung jawab moral untuk memastikan tunas-tunas muda yang sedang menimba ilmu di Jayapura ini tidak "patah" di tengah jalan hanya karena persoalan akomodasi. Pembangunan asrama ini adalah investasi jangka panjang. Mahasiswa yang hari ini Anda bantu tempat tinggalnya, adalah mereka yang akan kembali ke daerah untuk membangun birokrasi, kesehatan, dan pendidikan di Siriwo, Mapia, Piyaiye, Topo, dan Wanggar.
Suara ini tidak akan meredup. Kami akan terus melakukan advokasi, menyampaikan aspirasi melalui jalur-jalur yang tepat, dan mengingatkan pemerintah bahwa ada janji dan harapan yang dititipkan di pundak kami. "Kami datang ke Jayapura untuk membawa perubahan bagi daerah. Tolong bantu kami dengan menyediakan rumah tempat kami bernaung selama proses perubahan itu kami persiapkan. Semoga kerinduan kami akan hadirnya Asrama Simapitowa segera terobati. Kami menanti langkah nyata dari Pemda Nabire dan Dogiyai untuk menyembuhkan kerinduan ini.
Hari ini, kami menegaskan satu hal: Kami tidak akan berhenti bersuara. Rencana pembangunan asrama mahasiswa Simapitowa bukanlah sekadar keinginan emosional, melainkan kebutuhan mendesak yang menyangkut masa depan sumber daya manusia (SDM) di wilayah Simapitowa.
Penulis adalah salah satu Mahasiswa Universitas Cendrawasih Dan anggota Aktif Rpm Simapitowa di Jayapura.

0 Komentar