FOKUS PRABOWO: PENANAMAN KELAPA SAWIT DI PAPUA BUKAN SOLUSI KONKRIT


Oleh: Eman magai

Wacana percepatan pembangunan di Tanah Papua kembali menjadi sorotan utama dalam agenda nasional di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto. Dalam pertemuan terbaru bersama para kepala daerah se-Papua pada Desember 2025, Presiden mengungkapkan ambisinya agar Papua ditanami kelapa sawit guna mendukung target swasembada energi nasional melalui produksi bahan bakar minyak (BBM) nabati. Namun, kebijakan yang dibungkus dengan narasi kemandirian ekonomi ini justru mengundang kritik tajam sebagai langkah yang tidak konkrit dalam menjawab persoalan mendasar di Papua. Alih-alih membawa kemakmuran, ekspansi sawit di wilayah timur Indonesia ini dinilai lebih sebagai ancaman nyata bagi kelestarian ekologi hutan tropis terakhir dan kedaulatan masyarakat adat.

Ketimpangan antara ambisi politik dan realitas lingkungan terlihat jelas pada laju deforestasi yang terus meningkat. Berdasarkan penelitian dari organisasi Auriga Nusantara dan Yayasan Pusaka pada awal tahun 2025, pembukaan lahan sawit di Papua sering kali melibatkan pembabatan hutan primer yang masif, termasuk di wilayah Papua Selatan dan Papua Barat Daya. Meski dalam pengarahan percepatan pembangunan Presiden Prabowo menyatakan bahwa perencanaan akan dilakukan dengan "ketat," catatan lapangan menunjukkan bahwa izin-izin baru tetap menyasar kawasan hutan kaya karbon. Deforestasi ini bukan hanya persoalan hilangnya pohon, melainkan penghancuran ekosistem yang selama ini menjadi benteng pertahanan terakhir Indonesia dalam menghadapi krisis iklim global.

Ancaman ini semakin dalam ketika kita menelaah dampak sosial yang menimpa manusia Papua. Hubungan masyarakat adat dengan hutan adalah hubungan eksistensial yang tidak bisa digantikan oleh nilai uang atau upah buruh perkebunan. Studi yang dipublikasikan dalam Oxford Academic pada tahun 2025 menyebutkan bahwa industri sawit di Papua sering kali beroperasi dalam kerangka "ekstraktif-kolonial" yang meminggirkan hak ulayat. Presiden Prabowo dalam rapat di Istana Negara menyebut Papua memiliki "karunia" sumber daya yang melimpah, namun bagi masyarakat adat, kehadiran alat berat di tanah leluhur mereka justru dianggap sebagai ancaman terhadap identitas dan ketahanan pangan tradisional yang berbasis pada sagu dan perburuan.

Logika pembangunan yang mengandalkan monokultur sawit juga gagal menawarkan solusi ekonomi yang inklusif bagi penduduk asli. Penelitian dari universitas lokal di Papua menunjukkan bahwa kehadiran pabrik pengolahan sawit sering kali menurunkan kualitas air sungai dan merusak kedaulatan air masyarakat, seperti yang terjadi di DAS Kais, Sorong Selatan. Peningkatan pendapatan yang dijanjikan pemerintah dalam program swasembada sering kali hanya dinikmati oleh segelintir elite dan tenaga kerja migran, sementara warga lokal terperangkap dalam lilitan utang atau kehilangan akses terhadap tanah mereka sendiri. Jika kebijakan ini terus dipaksakan tanpa evaluasi mendasar, maka janji kemandirian energi nasional hanya akan dibayar dengan kehancuran lingkungan dan marginalisasi manusia Papua yang bersifat permanen.

Oleh sebab itu, arah pembangunan Papua di bawah kepemimpinan Prabowo Subianto memerlukan reorientasi total yang tidak hanya mengejar angka pertumbuhan statistik. Pemerintah harus menyadari bahwa solusi konkrit bagi Papua adalah penguatan ekonomi berbasis komunitas dan pelestarian hutan, bukan konversi lahan berskala besar yang merusak. Sebagaimana visi pembangunan yang sering kali mengedepankan harkat dan martabat bangsa, Papua seharusnya tidak dijadikan objek eksperimen komoditas global, melainkan subjek pembangunan yang berdaulat atas tanah dan masa depannya sendiri demi kelangsungan alam dan manusianya.

Posting Komentar

0 Komentar