![]() |
| Foto istimewa Selina |
*Oleh: Melkias Butu*
Di jantung Papua, di mana kabut tipis memeluk pucuk-pucuk pohon raksasa setiap pagi, hiduplah Selina. Ia menetap di sebuah pondok kayu kecil di perantara hutan yang begitu lebat, sebuah tempat yang seolah dilupakan oleh waktu namun diingat oleh keindahan. Di sana, setiap jengkal tanah adalah hamparan hijau yang adil, dan setiap ranting pepohonan adalah panggung bagi burung-burung Cenderawasih yang menari dengan bulu keemasan.
Selina adalah cerminan dari hutan itu sendiri. Parasnya cantik jelita; matanya sebening embun di atas daun pakis, dan senyumnya adalah cahaya yang mampu menembus rimbunnya kanopi hutan yang paling gelap sekalipun. Ia bukan sekadar penghuni hutan; ia adalah nyawa dari kedamaian itu. Hari-harinya dihiasi dengan canda dan tawa yang menggema, bersahutan dengan siulan burung-burung surga yang menganggapnya sebagai kawan.
"Lihatlah, emas ini tidak akan pernah pudar," bisik Selina suatu sore sambil menatap seekor Cenderawasih jantan yang sedang memamerkan ekor panjangnya di atas dahan pohon Matoa.
Bagi penduduk desa di pinggiran hutan, Selina adalah sosok yang menyenangkan. Ia sering membawakan buah-buahan hutan yang manis atau akar-akaran obat bagi mereka yang sakit. Kebaikan hatinya terpancar dari cara ia menyentuh setiap makhluk hidup—dengan kelembutan yang tak mudah dilupakan. Baginya, hutan adalah ibu, dan Cenderawasih adalah saudara-saudara kecilnya yang harus dijaga.
Namun, kedamaian yang adil itu mulai terusik. Keindahan Selina dan kemasyhuran "hutan emas" tempatnya tinggal perlahan terdengar ke telinga-telinga yang serakah.
Suatu musim kemarau yang gersang, sekelompok pemburu liar dan pembalak tanpa izin merambah masuk. Mereka tidak datang untuk mengagumi; mereka datang untuk mengambil. Suara deru gergaji mesin mulai merobek keheningan yang selama ini dijaga oleh Selina. Pohon-pohon raksasa tumbang, dan burung-burung Cenderawasih terbang tercerai-berai, kehilangan rumah dan panggung tarian mereka.
Selina tidak tinggal diam. Dengan keberanian yang tumbuh dari rasa cinta, ia berdiri di depan barisan pria-pria berwajah dingin itu.
"Berhenti!" teriaknya, suaranya yang biasa lembut kini bergetar hebat. "Hutan ini memberi kita hidup, mengapa kalian membalasnya dengan kematian?"
Para pria itu hanya tertawa. Baginya, Selina hanyalah gangguan kecil di tengah proyek besar yang menjanjikan tumpukan uang. Namun, Selina terus menghalangi. Setiap hari ia berada di sana, memeluk pohon-pohon yang ditandai untuk ditebang, mengusir burung-burung agar terbang lebih jauh ke dalam rimba agar tidak terjerat jaring pemburu.
Hingga tiba pada suatu senja yang berdarah.
Para perambah yang kehilangan kesabaran memutuskan untuk bertindak nekat. Saat Selina mencoba melepaskan seekor Cenderawasih yang terjerat perangkap di sebuah tebing tinggi, perselisihan hebat terjadi. Dalam kekacauan dan dorongan kasar di tengah remang hutan, kaki Selina kehilangan tumpuan.
Gadis cantik itu jatuh, terhempas ke dasar jurang yang dipenuhi bebatuan sungai yang tajam.
Hutan tiba-tiba menjadi sangat sunyi. Suara gergaji mesin berhenti seketika, seolah alam sendiri sedang menahan napas dalam duka yang mendalam. Cenderawasih yang tadi ia selamatkan terbang berputar-putar di atas jurang, mengeluarkan pekikan panjang yang menyayat hati—sebuah ratapan bagi sang pelindung.
Selina ditemukan tak bernyawa dengan posisi tubuh yang masih memeluk sehelai bulu emas Cenderawasih. Wajahnya tetap cantik jelita, namun pancaran kebahagiaan itu telah padam selamanya. Kebaikan hatinya menjadi legenda yang pahit bagi penduduk desa.
Sejak hari itu, konon katanya, hutan tersebut tidak pernah lagi sedamai dulu. Burung-burung Cenderawasih jarang terlihat menari. Mereka hanya sesekali muncul saat senja, hinggap di reruntuhan pondok Selina yang kini ditumbuhi semak belukar, menyanyikan nada-nada sedu yang mengingatkan siapa pun yang mendengar bahwa pernah ada seorang gadis surga yang mencintai hutan lebih dari nyawanya sendiri, namun akhirnya dikhianati oleh tangan manusia yang tak pernah puas.
Jayapura, 27 Januari 2026

0 Komentar