Oleh: Edison Tebai
Di Antara celah dan lemah, Mimpi-mimpi lahir diatas Tanah penuh harapan. Releng Gunung Abepura, tempat Merana senantiasa berpeluh cahaya, berdiri sebuah rumah yang dibangun, bukan dari batu semata, Bukan juga Hayalan. melainkan dari napas leluhur yang menyebut nama anak-anaknya sejak fajar pertama.
Asrama itu bernama Simapitowa, tempat di mana dinding-dindingnya memeluk kisah perjalanan jauh suku Mee, yang menyeberangi bukit dan danau, meninggalkan kabut Weyland yang biru, demi mencari terang di kota yang ramai ini.
Simapitowa bukan sekadar bangunan, ia adalah tangan yang terulur, Dia bagikan pelukan ibu, Sebesar kasih sayang Ayah. Namun hilang sekejap dalam malam yang kelam. Hanya mimpi yang menghantui kalbu. Doa ayah ibu tak pernah usai, meski malam berkali-kali menutup jendela tua yang kian redup.
Di halaman asrama, Ku angin membawa kabar Baik, beranjak kaki yang kokoh, membagun Simapitowa. Di asrama ini, ku ingin bermimpi sejernih bagaikan sungai Wodei, bercerita tentang Kebenaran.
Ini bayang-bayangku dalam diamku, disudut kota penuh kerinduan. Pelajar mahasiswa menyimpan kabar itu dalam dada, Bagaikan sepasang merpati yang terpisah. Kerinduan ini lahir dari Sebuah Mimpi, Mimpi yang Terjerat oleh Waktu.
Jayapura, 26 November 2025

0 Komentar