Emil Petege; Simapitowa, Keluarga yang Saya Temukan di Jayapura

 


Oleh Emilianus Petege

Sejak kecil, saya tinggal di Kampung Timeepa. Suatu hari, saya mendengar orang tua di kampung berbicara tentang sesuatu yang terdengar asing bagi saya: RPM Simapitowa. Mereka mengatakan bahwa organisasi itu ada di kota studi Jayapura. Namun saat itu saya sama sekali tidak mengerti apa artinya. Kata itu terus melekat dalam ingatan saya, membuat saya sering bertanya dalam hati: Apa sebenarnya RPM Simapitowa itu?

Beberapa bulan kemudian, saya lulus dari SMP Negeri 1 Mapia Tengah. Setelah menerima ijazah, saya mulai memikirkan masa depan. Saya ingin mencari pengalaman baru dan melanjutkan sekolah ke kota studi Jayapura. Dalam hati, saya berkata, “Saya juga mau pergi ke Jayapura.” Keinginan itu akhirnya menjadi kenyataan. Dengan penuh harapan dan semangat baru, saya meninggalkan kampung. Ketika kapal tiba di Jayapura, saya dijemput oleh Kakak Yanuarius Wakei di pelabuhan. Perjalanan menuju kota studi itu menjadi langkah pertama saya memasuki dunia yang lebih besar.

Beberapa hari setelah saya tinggal di Jayapura, Kakak Yohanes D. B. Petege berbicara kepada saya dengan nada lembut “Adik, kamu juga ambil formulir tahap kedua ya. Itu untuk perkenalan RPM Simapitowa.”

Saat mendengar nama itu lagi, saya terdiam. Saya tidak menjawab, hanya menyimpan pertanyaan itu dalam hati. Kata “RPM Simapitowa” kembali mengingatkan saya pada percakapan orang-orang di Kampung Timeepa. Rasa penasaran saya semakin besar.

Pada hari Sabtu, saya memutuskan untuk mengambil formulir tersebut. Saya membawa formulir itu berkeliling untuk meminta paraf dari kakak-kakak yang tinggal di gubuk-gubuk dan asrama mahasiswa di Jayapura. Setiap paraf terasa seperti sambutan hangat dari keluarga baru. Hingga akhirnya, jumlah tanda tangan di formulir saya mencapai sekitar 105 orang. Rasanya seperti saya telah membuka pintu memasuki sebuah komunitas besar.

Meski begitu, rasa penasaran saya belum hilang. Saya lalu bertanya kepada salah satu kakak senior, Kakak Yulianus Magai “Kakak, apa sebenarnya RPM Simapitowa itu?” Ia tersenyum dan menjelaskan dengan sabar “RPM Simapitowa itu nama organisasi. SIMAPITOWA adalah singkatan dari Siriwo, Mapia, Piyaiye, Topo, dan Wanggar.”

Mendengar penjelasan itu, saya baru benar-benar mengerti. Semua pertanyaan yang saya simpan sejak di kampung akhirnya terjawab. Beberapa hari kemudian, kami mengikuti perkenalan calon anggota baru RPM Simapitowa. Kegiatan itu dipimpin oleh Kakak Berto Gobai sebagai ketua seminar sehari, dan Kakak Melianus Kegiye sebagai sekretaris. Dalam seminar itu, kami belajar tentang sejarah organisasi, nilai-nilai kekeluargaan, serta makna kebersamaan di RPM Simapitowa.

Setelah melalui seluruh rangkaian perkenalan, saya merasa sangat bersyukur. Saya berterima kasih kepada semua kakak senior yang telah membimbing kami dengan penuh kesabaran. Saya merasa diterima, dihargai, dan dianggap sebagai bagian dari keluarga besar RPM Simapitowa.

Kini, saya bahagia hidup dan belajar bersama keluarga besar Simapitowa. Dari organisasi ini, saya belajar banyak hal tentang kebersamaan, tanggung jawab, kerendahan hati, dan arti persaudaraan sesungguhnya. RPM Simapitowa bukan hanya organisasi, tetapi juga rumah kedua yang membentuk saya menjadi pribadi yang lebih baik.

Perjalanan saya dari Timeepa hingga Jayapura ternyata bukan hanya perjalanan untuk sekolah, tetapi juga perjalanan untuk menemukan keluarga baru keluarga yang saya temukan di Jayapura, keluarga bernama Simapitowa.

Penulis adalah Pelajar Di Jayapura dan Anggota Rpm Simapitowa 

Posting Komentar

0 Komentar