Puisi: Melkias Butu
Langkah ini bukan lagi soal jarak, tapi tentang betapa beratnya debu yang menempel di pundak.
Waktu berubah menjadi jam pasir yang bocor, memaksa kita berlari, saat lutut sudah ingin tersungkur..
Dunia bicara dalam bahasa angka dan target, sementara napas kita hanya sekadar sisa-sisa yang luput dipotret.
Ada kalanya, menjadi kuat adalah penyamaran paling melelahkan, memakai senyum seperti seragam yang kekecilan.
Kita hanya ingin duduk, tanpa harus menjelaskan mengapa.
Menitipkan lelah pada secangkir kopi yang mendingin, dan membiarkan sunyi mengambil alih segala riuh yang tak kunjung usai.
admin

0 Komentar