Belenggu Kemarin


Puisi Oleh Melkias Butu 

Di dahi ada bekas luka yang tak mau pudar,

Kau raba setiap malam, hingga perihnya menjalar.

Kau bawa sekeranjang abu dari rumah yang sudah terbakar,

Lalu heran mengapa taman barumu tak kunjung mekar.

Masa lalu adalah pencuri yang sopan,

Ia datang tanpa ketukan, merampas setiap harapan.

Kau beri ia kursi paling empuk di ruang tamu pikiran,

Sementara masa depan mati kelaparan di depan pintu depan.

Langkahmu berat, terseret rantai kenangan,

Mata terpaku pada jejak, bukan pada tujuan.

Bagaimana bisa membangun istana di atas awan,

Jika fondasimu hanyalah puing-puing penyesalan?

Hancurnya esok bukan karena nasib yang kejam,

Tapi karena kau biarkan matamu tetap terpejam.

Mencintai luka lama hingga batinmu karam,

Mematikan cahaya, sebelum fajar sempat menyalam.

Tim Media 



Posting Komentar

0 Komentar