*Oleh: Anna Maria Tekege*
Tanah Papua hari ini sedang berdiri di persimpangan jalan yang rapuh. Di satu sisi, negara terus memacu deru mesin militeristik dengan dalih keamanan, namun di sisi lain, denyut nadi pendidikan bagi anak-anak asli Papua justru semakin melemah. Sebagai bagian dari bangsa ini, kita perlu bertanya dengan jujur: apakah pendekatan senjata selama ini benar-benar membawa kedamaian, atau justru memanen ketakutan?
Tolak Tambahan Militer, Masyarakat adat dan senator Papua secara tegas menolak peningkatan jumlah markas TNI/Polri organik maupun non-organik di Atas Tanah Papua, karena dianggap lebih banyak mengamankan kepentingan modal/investasi dari pada melindungi warga lokal. Kehadiran militerisme akan lahirkan Trauma dan Konflik kepada masyarakat sipil di Atas Tanah Papua. Konflik bersenjata antara aparat dan kelompok bersenjata menyebabkan trauma, terutama bagi anak-anak di daerah rawan, dan membuat aktivitas pendidikan terhenti.
Pada hakekatnya masyarakat Papua Meminta pendidikan menjadi prioritas utama dalam membangun sumber daya manusia di Atas Tanah Papua, bukan hanya fokus pada pengerahan personel.
Gagalnya Pendekatan Keamanan
Pendekatan militeristik yang dikedepankan pemerintah selama ini dinilai telah gagal total. Bukannya melahirkan rasa aman, kehadiran aparat dalam jumlah besar justru menciptakan eskalasi konflik yang tak berkesudahan, pengungsian massal warga sipil, dan dugaan pelanggaran hak asasi manusia.
Masyarakat adat dan para senator Papua telah secara tegas menyuarakan penolakan terhadap penambahan markas TNI/Polri, baik organik maupun non-organik. Ada persepsi kuat di akar rumput bahwa pengerahan personel ini lebih banyak ditujukan untuk mengamankan kepentingan modal dan investasi daripada melindungi nyawa warga lokal.
Luka di Bawah Seragam: Trauma dan Krisis Pendidikan.
Dampak paling nyata dari militerisme ini adalah trauma yang menghantui generasi masa depan. Konflik bersenjata antara aparat dan kelompok tertentu telah merampas keceriaan anak-anak Papua. Di wilayah-wilayah rawan, aktivitas pendidikan terhenti total.
Bayangkan ribuan anak Papua yang harus putus sekolah atau belajar di bawah bayang-bayang ketakutan. Di daerah pengungsian seperti Nduga, anak-anak terpaksa belajar di sekolah darurat dengan fasilitas seadanya. Sekolah-sekolah terbakar, dan para guru—yang seharusnya menjadi lentera ilmu—terpaksa meninggalkan tempat tugas demi menyelamatkan nyawa. Jika kondisi ini dibiarkan, kita sedang menyaksikan penghancuran sistematis terhadap masa depan sebuah generasi.
Otsus: Untuk Guru, Bukan untuk Seragam militerisme.
Dana Otonomi Khusus (Otsus) seharusnya menjadi angin segar bagi perbaikan fasilitas sekolah, pemenuhan kuota guru, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Namun, realita di lapangan justru menunjukkan adanya tuntutan agar dana besar tersebut tidak lagi dialokasikan untuk membiayai "Polisi/TNI Otsus".
Masyarakat Papua menagih hak mereka: Pendidikan Gratis dan Berkualitas. Dana Otsus harus kembali ke khitahnya sebagai alat pemberdayaan manusia, bukan instrumen keamanan. Kita butuh lebih banyak pena dan buku di tangan anak-anak Papua, bukan moncong senjata di depan gerbang sekolah mereka.
Solusi Damai: Dialog, Bukan Peluru.
Krisis sosial di perkotaan akibat banyaknya anak putus sekolah adalah bom waktu yang diciptakan oleh pengabaian sistematis ini. Jalan keluar dari lingkaran setan kekerasan ini bukanlah dengan menambah personel militer, melainkan melalui:
Dialog dan Rekonsiliasi: Penyelesaian konflik harus menyentuh akar permasalahan melalui pendekatan kemanusiaan yang bermartabat.
Penghentian Stigma: Menghentikan kriminalisasi terhadap aktivis dan mengakhiri stigma negatif terhadap masyarakat Papua.
Penentuan Nasib Sendiri: Menghargai aspirasi politik dan hak menentukan nasib sendiri sebagai bagian dari demokrasi yang sehat.
Penutup
Militerisme adalah jalan buntu. Senjata mungkin bisa membungkam suara untuk sementara, tapi ia tidak akan pernah bisa memenangkan hati. Sudah saatnya negara menarik mundur pendekatan keamanan yang represif dan mulai mengedepankan pendekatan pendidikan yang membebaskan. Berikan anak-anak Papua pena, berikan mereka sekolah yang aman, dan berikan mereka masa depan tanpa trauma. Karena perdamaian yang sejati hanya bisa tumbuh di atas tanah yang merdeka dari rasa takut.
Penulis adalah Mahasiswa Universitas sains dan teknologi (USTJ) di Jayapura Papua

0 Komentar