![]() |
| saat Diskusi berlangsung di Yali Papua Foto Melkias Butu |
JAYAPURA, MajalahMaaUgai.com - Yayasan lingkungan Hidup (Yali - Papua) Menggelar Lokakarya LITERASI DIGITAL dan Pemutaran Film Pesta Babi. Kegiatan tersebut menunjukkan Aktivis Lingkungan, Masyarakat adat, dan Mahasiswa di kota Jayapura. kegiatan tersebut selama dua hari di Aula YPMD IRJA, Kota Raja, Jayapura,Papua pada kamis-jumat( 23-24/4/2026).
Nobar ini berlangsung selama dua Hari yakni hari Kamis dan Jumat pada 23-24 April 2026, yang dibuka secara langsung oleh direktur eksekutif YALI Papua, Nicodemus A. P. Yomaki. Dalam sambutannya, ia menyebut masih banyak masyarakat yang telah menggunakan teknologi digital, tetapi belum memahami literasi digital secara menyeluruh.
“Banyak orang sudah memanfaatkan produk-produk digital, tetapi belum memahami apa itu literasi digital yang sebenarnya. Karena itu, kami hadir untuk membantu anak muda Papua memahami hal tersebut,” kata Yomaki.
Dengan mengahdirkan berbagai pemateri dari kalangan aktivis dan praktisi, termasuk Janzen Faidiban dari Nokensoft yang membawakan topik “Pengantar literasi digital dan keamanan digital”. Selain itu, Harun Y. Rumbarar menyampaikan materi tentang strategi kampanye digital, pengelolaan media sosial, keamanan digital, serta etika digital dalam membangun narasi masyarakat adat.
Nobar "Nonton Bareng" Yang diikuti aktivis lingkungan, masyarakat adat, serta mahasiswa yang menunjukkan antusiasme tinggi dan keseriusan dalam mengikuti seluruh Rangkaian yang berjudul film "Pesta Babi".
Film dokumenter karya Cypry Paju Dale dan Dandhy Laksono ini mengkaji secara kritis fenomena perampasan tanah adat di Papua, Melalui pendekatan visual-empiris, film ini menyingkap dinamika perjuangan masyarakat adat dalam mempertahankan ruang hidupnya dari ekspansi proyek-proyek berskala besar yang mengatasnamakan “ketahanan pangan” dan “transisi energi”.
Lebih lanjut, film ini juga memperlihatkan keterkaitan antara praktik pembangunan tersebut dengan proses militerisasi, serta menempatkannya dalam kerangka historis yang lebih luas terkait eksploitasi sumber daya dan marginalisasi masyarakat adat di Papua.
Seusai Nobar, Stenly Jambojay Menyungkapkan Hari ini saya mau sampaikan ke teman-teman, Mahasiswi dan sepur orang papa cukup saya saja di Mamberamo Selatan yang aset hutannya habis 2.880 hektar, dan akan ditambahkan lagi bulan depan sebesar 16 juta hektar dari Merauke sampai dengan Oksibil, saya tidak mau lihat daerah lain di tanah Papua akan terjadi hal yang sama. Ungkap Stenly.
teman-teman tadi sudah lihat dalam film sepanjang jalan 175 kilometer dan lebarnya itu 1 kilo. Itu untuk penyerobotan pasukan militer dari Merauke sampai ke Oksibil. Data terakhir tentang penyerobotan pasukan militer 2021 sampai dengan 2024 itu sebanyak 16 juta pasukan militer non-organik yang ada di tanah Papua. Salah satunya itu untuk kerja proyek strategis nasional, yaitu Brigade Pangan, yang tangan kanannya pegang senjata, tangan kirinya pegang sekop. ungkapnya.
Mungkin pesan saya untuk teman-teman mahasiswa dan juga teman-teman aktivis dari semua, kita harus satukan barisan. Kita jangan lihat dari kau suku mana, suku mana, tapi cukup administrasi Indonesia membagi kita dalam enam provinsi. Tapi kita ini satu, kita orang Papua. Tuturnya
*Penulis Melkias Butu*

0 Komentar