Waktu Tak Berujung

 


Cerpen pendek!!..
Melkias Butu


Waktu Tak Berujung 

Udara Hollandia sore itu terasa seperti selimut basah yang menempel di kulit—lembab dan menyesakkan. Di Kafe Nayak, denting sendok yang beradu dengan cangkir porselen tenggelam di balik hiruk-pikuk suara kendaraan yang melintas di jalanan depan. Namun, di pojok ruangan, di balik kepul asap kopi hitam yang mulai mendingin, Kias merasa dunia seakan berhenti berputar.


Tangannya sedikit gemetar saat memegang selembar koran lokal yang tintanya masih meninggalkan noda hitam di ujung jarinya. Tajuk utamanya berteriak tanpa suara: Tragedi di Dogiyai, Warga Sipil Menjadi Korban.


Kias membaca paragraf demi paragraf dengan napas yang tertahan. Deskripsi tentang letusan senjata dan tangisan di lembah itu seolah-olah meloncat keluar dari kertas, mencengkeram lehernya. Baginya, berita itu bukan sekadar informasi; itu adalah luka yang terus menganga, sebuah siklus yang membuatnya merasa terjebak dalam waktu yang tak pernah berakhir.


"Beritanya tidak pernah benar-benar berubah, kan?"


Sebuah suara lembut memecah keheningan personal Kias. Ia mendongak. Di hadapannya berdiri seorang perempuan dengan noken yang tersampir di bahu dan tatapan mata yang teduh namun menyimpan kegelisahan yang sama. Wulan. Saat itu, Kias belum tahu namanya.


Wulan menunjuk ke arah koran di meja. "Dogiyai. Saya punya keluarga di sana. Sampai tadi pagi, jaringan telepon masih sulit."


Kias menarik kursi di depannya, sebuah undangan bisu. Wulan duduk. Di antara mereka, koran itu terbentang seperti peta penderitaan yang tak kunjung usai.


"Saya Kias," ucapnya pendek, suaranya parau.


"Wulan."


Mereka terdiam cukup lama. Di luar, langit Hollandia mulai berubah warna menjadi jingga kemerahan, warna yang mengingatkan Kias pada api yang membakar rumah-rumah di pedalaman.


"Kenapa rasanya kita selalu kembali ke titik yang sama?" tanya Kias kemudian. "Tahun berganti, tapi judul korannya tetap sama. Militer, pengepungan, tangisan. Seolah-olah waktu di tanah ini adalah lingkaran setan yang tidak punya pintu keluar."


Wulan memandang keluar jendela, ke arah perbukitan yang mengepung kota. "Mungkin karena waktu di sini memang tidak berjalan lurus, Kias. Bagi mereka yang menunggu keadilan, waktu itu tak berujung. Ia diam, membusuk di tempat, sementara kita dipaksa untuk terus berjalan di atasnya."


Di Kafe Nayak yang sederhana itu, dua orang asing terikat oleh rasa sakit yang kolektif. Kias melihat ada butiran bening di sudut mata Wulan, namun perempuan itu tidak membiarkannya jatuh. Ada ketabahan yang keras kepala di sana, sebuah jenis kekuatan yang hanya bisa lahir dari tanah yang terlalu sering disirami darah.


"Waktu tak berujung itu bukan berarti tidak ada harapan," bisik Wulan, lebih kepada dirinya sendiri. "Hanya saja, kita harus belajar bernapas di bawah air untuk waktu yang sangat lama."


Kias melipat koran itu pelan-pelan, menyembunyikan berita duka itu di balik lipatan kertas, namun ia tahu ia takkan pernah bisa melupakan gambaran di dalamnya. Sore itu, di tengah aroma kopi dan debu kota Hollandia, Kias menyadari bahwa pertemuannya dengan Wulan adalah satu-satunya hal yang terasa nyata di tengah absurditas waktu yang mereka bicarakan.


Mereka tidak tahu kapan lingkaran ini akan pecah. Namun, saat mereka beranjak meninggalkan kafe, tangan mereka sempat bersentuhan sejenak—sebuah jangkar kecil di tengah samudera waktu yang tak berujung.


Jayapura, 09Mei 2026

Posting Komentar

0 Komentar