Kopi dan Sunyi di Tepian Kali Degeuwo
Kabut tipis selalu punya cara untuk menyembunyikan rahasia di Km 100, Distrik Siriwo. Di sanalah, di sebuah warung kayu sederhana yang menghadap ke arah lembah, Jhon pertama kali menyesap rasa pahit yang kelak ia sebut sebagai cinta.
Naina adalah gadis dengan mata setenang aliran Kali Degeuwo di musim kemarau. Ia menyodorkan segelas kopi hitam panas kepada Jhon yang tengah beristirahat setelah perjalanan panjang melintasi jalanan trans-Papua yang berdebu.
"Gula atau tidak?" tanya Naina singkat.
"Pahit saja, seperti perjalanan hari ini," jawab Jhon sambil tersenyum tipis.
Sejak hari itu, Km 100 bukan lagi sekadar titik koordinat bagi Jhon. Itu adalah rumah. Setiap kali ia melintas, ada waktu yang sengaja ia curi untuk duduk di tepian Degeuwo bersama Naina. Di sana, di bawah gemuruh air yang menghantam bebatuan, mereka membangun mimpi yang sederhana: sebuah rumah kecil di pinggir kali, jauh dari hiruk-pikuk tambang dan bising mesin.
Namun, takdir di tanah ini sering kali sekeras batu gunung.
Pertemuan mereka adalah anugerah, namun latar belakang mereka adalah jurang. Jhon adalah pengembara yang mencari peruntungan, sementara Naina terikat pada adat dan janji lama keluarganya di pedalaman. Sebuah garis batas telah ditarik oleh para tetua, sebuah garis yang tidak boleh dilangkahi oleh cinta yang dianggap asing.
Puncaknya terjadi di suatu sore yang kelabu. Kabar itu datang seperti banjir bandang—Naina harus pergi mengikuti kehendak kaumnya, menjauh dari aliran Degeuwo yang selama ini menjadi saksi bisu janji mereka.
Mereka sepakat bertemu untuk terakhir kalinya di Jembatan Bedu. Jembatan yang membentang angkuh itu menjadi batas akhir antara harapan dan kenyataan.
Jhon berdiri di pertengahan jembatan, menggenggam sebuah termos kecil berisi kopi yang ia seduh sendiri—kopi yang sama dengan yang Naina suguhkan di Km 100. Naina datang dengan mata sembab, langkahnya berat seolah setiap jengkal kayu jembatan itu menahan kakinya agar tidak pergi.
"Kenapa harus di sini, Naina?" bisik Jhon, suaranya parau tertelan angin lembah.
"Karena jembatan ini diciptakan untuk menghubungkan dua tempat, Jhon. Tapi bagi kita, ia hanya menunjukkan betapa jauh jarak yang harus kita tempuh untuk tetap bersama, dan kita tidak punya cukup kekuatan untuk itu," sahut Naina.
Naina mengambil gelas plastik dari tangan Jhon, menyesap kopi pahit itu untuk terakhir kalinya. Tak ada gula, tak ada manis, hanya rasa pekat yang tertinggal di kerongkongan.
"Simpan sunyi ini, Jhon. Biarkan Degeuwo yang menyimpan sisa cerita kita," ucap Naina sebelum berbalik.
Di pertengahan Jembatan Bedu, di bawah langit yang mulai menggelap, Jhon hanya bisa mematung. Ia melihat punggung Naina menjauh, hilang ditelan kabut yang mulai turun. Ia menuangkan sisa kopi ke bawah, membiarkannya jatuh bebas dan menyatu dengan derasnya air sungai di bawah sana.
Kopi itu telah habis, dan kini yang tersisa hanyalah sunyi yang abadi di tepian Kali Degeuwo. Cinta mereka tidak mati, ia hanya dipaksa berhenti tepat di tengah jalan, seperti jembatan yang tak pernah sampai ke seberang impian...
Oleh: Melkias Butu

0 Komentar