LUKA MERINDU BAHAGIA

 

 


Oleh: Mikael Dogomo

Asrama RPM Simapitowa, ia adalah bisikan senja, harapan yang disimpan dalam palung hati sejak fajar 2007, menjangkau purnama 2025. Konsep itu menjelma luka, goresan yang paling dalam, terukir di nadir setiap jiwa Simapitowa yang merantau.

Sebab kami tahu, jika bilah luka ini tak tersembuhkan kini, ia akan membusuk seribu tahun ke depan, meninggalkan duka lara, mengorbankan marwah jiwa dan benih SDM.

Mahasiswa dan mahasiswi kami, gagah laksana karang, menolak menyerah pada badai dan ranjau tantangan. Mereka mengayun cangkul demi asrama swadaya, sebab mereka yakini: tantangan adalah api yang menguatkan iman, mengasah ketajaman cita-cita yang sedang kami cintai.

Kami memegang prinsip agung: Jiwa tanpa fondasi, adalah kehidupan dalam hampa. Maka niat besar kami berdiri tegak, menolak takdir bagi masa depan Simapitowa, untuk terperosok dalam jurang ketertinggalan.

Cahaya Penawar di Ujung Penantian

Kini, luka yang membeku itu telah memasuki musim penyembuhan di penghujung sang kala 2025. Ini adalah panen dari ketabahan, buah dari doa-doa orang tua yang menguntai di ufuk timur, berkat kesadaran luhur para intelektual, dan berkat tangan aktor utama, Bapak Mesak Magai S.Sos., M.Si., yang menjadi saksi dan penawar luka itu sendiri.

Asrama Swadaya RPM Simapitowa, ia adalah wadah tempaan, kawah di mana SDM masa depan berkumpul. Tempat di mana setiap langkah adalah prosesi membangkitkan Simapitowa, dari gerhana kebodohan menuju terang yang abadi.

Ia adalah ruang di mana insan Simapitowa dibina, mengenal akar, menyadari: bahwa tanah leluhur kami meluas, subur, dan kaya raya.

Asrama Simapitowa adalah Rumah dari segala penjuru bagi masa depan kami. Rumah yang berarti memiliki pondasi spiritual yang tak tergoyahkan, beratap keyakinan, menjadi pelindung dari hujan keraguan dan panas kemalasan.

Agar segala potensi, dari SDA yang membisu hingga SDM yang bersuara, terlindung dari ancaman pusaran kuasa dunia, dan dapat mekar, menjadi kebanggaan abadi.

Posting Komentar

1 Komentar