Mutiara Simapitowa yang Terlantar Dan Mimpi Bangun Asrama Swadaya


Oleh: Hubertus Gobai, Jurnalis Nokenlive


Di tengah semangat pendidikan yang terus bergema di tanah Papua, masih ada sekelompok mahasiswa yang berjalan di antara bayang-bayang keterlantaran. Mereka adalah Rumpun Pelajar dan Mahasiswa Siriwo, Mapia, Piyaiye, Topo, dan Wanggar dikenal dengan nama RPM SIMAPITOWA.

Di balik semangat dan kerja keras mereka, tersimpan kisah panjang tentang perjuangan tanpa perhatian. Tentang mimpi yang hampir pudar, tapi tetap dijaga dengan keteguhan hati. Tentang mutiara yang bersinar di lumpur ketidakpedulian: mahasiswa Simapitowa yang terlantar di kota studi Jayapura.


Mahasiswa Simapitowa berasal dari dua kabupaten berbeda: Dogiyai dan Nabire. Wilayah Mapia dan Piyaiye termasuk dalam Kabupaten Dogiyai, sedangkan Siriwo, Topo, dan Wanggar masuk dalam wilayah Nabire. Sejak tahun 1970-an, para mahasiswa dari rumpun ini berinisiatif membentuk sebuah organisasi bernama RPM SIMAPITOWA. Organisasi ini bukan sekadar wadah berkumpul, tetapi tempat belajar, membentuk karakter, dan memperkuat nilai-nilai tanggung jawab sosial serta moral.


Tujuannya sederhana tapi mulia: agar anak-anak dari wilayah ini bisa bersatu, belajar, dan berjuang bersama untuk masa depan yang lebih baik. Namun dalam perjalanan panjangnya, organisasi ini harus menghadapi kenyataan pahit: ketika pendidikan diperjuangkan tanpa tempat untuk bernaung.


Jayapura, kota studi yang menjadi pusat ilmu dan harapan bagi banyak anak muda Papua, justru menjadi tempat ujian berat bagi mahasiswa Simapitowa. Sementara mahasiswa dari daerah lain memiliki asrama yang layak dan mendapat dukungan dari pemerintah daerahnya, mahasiswa Simapitowa tidak memiliki tempat tinggal sendiri. Mereka menumpang di rumah orang lain, berpindah dari satu tempat ke tempat lain, bahkan ada yang menginap di asrama kabupaten lain sekadar agar bisa melanjutkan kuliah tanpa terusir dari kota.


Bagi mereka, menumpang bukan sekadar urusan tempat tinggal, tapi soal harga diri dan martabat. Mereka sering merasa seperti tamu di tanah rantau, di tengah kota yang seharusnya menjadi rumah kedua bagi para pencari ilmu.

Ironisnya, pemerintah daerah yang seharusnya menjadi “orang tua” bagi mahasiswa, justru diam dan seolah tidak tahu-menahu.


“Kami bukan mencari sensasi. Kami hanya ingin tempat tinggal yang layak,” ujar salah satu mahasiswa dengan nada getir. Pernyataan itu menggambarkan luka kolektif yang dalam luka akibat diabaikan oleh pemilik kekuasaan yang seharusnya hadir memberi harapan.


Bertahun-tahun lamanya, mahasiswa Simapitowa hidup dalam keterbatasan. Tidak ada bantuan berarti, tidak ada perhatian yang serius. Tetapi dari rasa malu itu lahir kekuatan baru kekuatan untuk berdiri di atas kaki sendiri. Mereka sadar, jika terus menunggu bantuan pemerintah, mungkin mimpi itu tidak akan pernah datang. Maka mereka memilih untuk bertindak.


Dengan tenaga dan pikiran sendiri, mereka melakukan penggalangan dana. Mereka mengadakan pertandingan tahunan, kegiatan budaya, dan berbagai aksi solidaritas untuk mengumpulkan biaya pembangunan. Keringat mereka menjadi modal, doa mereka menjadi pondasi, dan solidaritas menjadi semangat utama. Di saat banyak generasi muda sibuk mengejar gaya hidup instan, mahasiswa Simapitowa justru menunjukkan makna sejati perjuangan: berdikari dalam keterbatasan.


Perjuangan mahasiswa ini ternyata tidak sendiri. Dari kampung-kampung di Dogiyai hingga perbatasan Nabire, masyarakat ikut berkontribusi. Ada yang menyumbang uang, ada yang mengirim bahan bangunan, ada pula yang hanya mampu menyumbang doa — tetapi semuanya mengalir dengan tulus. Bagi masyarakat Simapitowa, membangun asrama bukan sekadar proyek fisik, tetapi simbol harapan: tempat yang akan melahirkan generasi baru yang cerdas, berkarakter, dan berakar pada nilai-nilai budaya. Inilah wujud nyata dari gotong royong dan rasa memiliki yang sejati. Mereka tahu bahwa pendidikan bukan hanya urusan sekolah, tetapi juga ruang untuk membangun peradaban.


Selama puluhan tahun, mahasiswa Simapitowa berjuang sendiri. Pemerintah Dogiyai dan Nabire berganti-ganti pemimpin, tetapi tidak satu pun yang benar-benar menaruh perhatian serius terhadap nasib anak-anak mereka di kota studi. Bantuan sering kali datang dalam bentuk janji kosong, sementara mahasiswa terus hidup dari belas kasihan.


Padahal, di atas kertas, setiap daerah memiliki anggaran pendidikan. Namun, seperti biasa, yang kuat mendapat perhatian, yang kecil dibiarkan berjuang sendiri. Inilah wajah ketimpangan yang paling nyata di Papua: ketika pembangunan fisik dijadikan kebanggaan, tetapi investasi terhadap manusia justru diabaikan.

Namun semua penderitaan itu kini mulai menemukan cahaya. Pada Sabtu, 25 Oktober 2025, mahasiswa RPM SIMAPITOWA akhirnya melaksanakan peletakan batu pertama pembangunan Asrama Swadaya di Abepura, Kota Jayapura. Hari itu bukan sekadar acara simbolik. Itu adalah buah dari kesabaran selama puluhan tahun. “Ini impian besar seluruh mahasiswa dan masyarakat Simapitowa,” ujar Paskalis Dogomo, salah satu penggerak utama pembangunan.

Keringat, air mata, dan doa akhirnya menjadi nyata. Meskipun sederhana, asrama swadaya ini adalah bukti bahwa mahasiswa tidak bisa terus dibiarkan menunggu. Mereka mampu menciptakan solusi sendiri ketika negara tidak hadir.


Mutiara yang Tak Boleh Dibiarkan Pudar

Kisah mahasiswa Simapitowa bukan hanya cerita lokal ini adalah potret nasional tentang abainya perhatian terhadap pendidikan di daerah. Anak-anak yang meninggalkan kampung demi menuntut ilmu seharusnya tidak menanggung beban sosial yang berat hanya karena lahir di distrik kecil. Pemerintah daerah seharusnya belajar bahwa membangun manusia jauh lebih penting daripada membangun gedung megah yang tak berjiwa.

Mahasiswa Simapitowa adalah mutiara yang terlantar, tetapi tetap bersinar dengan cahayanya sendiri. Mereka menunjukkan bahwa ketulusan, semangat, dan gotong royong mampu mengalahkan ketidakpedulian. Kini, ketika batu pertama telah diletakkan, harapan baru pun tumbuh. Namun, perjuangan belum selesai. Pemerintah harus membuka mata dan hati karena setiap mahasiswa Papua, dari kampung mana pun ia berasal, berhak atas tempat yang layak untuk belajar dan bermimpi.


Penulis: Hubertus Gobai Jurnalis Nokenlive

Posting Komentar

0 Komentar