Rindu tak pernah berakhir

 

Oleh: Agustinus Butu 

Di sudut kota yang sunyi, ia pergi, tanpa suara, tanpa penjelasan,

hanya angin yang menemani langkahnya.

Kotak surat penuh dengan harap, ia tak pernah terbuka,

Bagai menunggu jawaban cinta yang terpendam sanubari, tak pernah memberi jawaban.


Kita berusaha memahami, mengapa ia pergi, tapi jawabannya hanya angin, yang berhembus lewat jendela. Mungkin ia tak tahu, atau mungkin ia tak peduli. tapi kita tetap berdiri, dalam diam yang tak pernah berakhir.


Meninggalkan tanpa alasan adalah cara yang paling menyakitkan, karena ia tak pernah memberi kesempatan,

untuk memahami, atau memperbaiki. 


Dalam kesunyian itu, kita belajar untuk berdiri, dan melangkah maju, meski hati masih terluka. Puisi diam ini, ku tulis dari jendela tua yang kian usang, bait demi bait adalah doa yang tak pernah usai. 


Dalam diam, ada kekuatan yang tak terdengar. Ia tak perlu mengucapkan, karena kata-kata sering kali tak cukup, tapi dalam diam, segala yang tak terucapkan, tak pernah terlupakan. Dalam diam, ada kekuatan untuk menahan rindu.


Diam bukan kelemahan,

tapi keberanian untuk berpikir,

untuk merenung, dan untuk memilih. Dalam diam, ada kejujuran yang tak terucap dan kepedulian tak perlu diungkapkan.


Diam bagaikan cara untuk mengenang, tanpa suara. penuh makna, kita belajar untuk hidup, dengan kejujuran menggapai mimpi. Kotak surat penuh dengan harapan, tapi hanya angin yang menjawab, dengan hembusan yang tak pernah berhenti, bagaikan Ia pergi tak membawa kenangan, tapi membawa rindu yang tak pernah berakhir.


Jayapura, 12 November 2025


Posting Komentar

0 Komentar