Puisi
Di lengkung bibirmu yang ranum itu,
Ada mentari yang terbit dengan malu-malu.
Cahayanya hangat, menyentuh setiap sudut kelam,
Menghapus riuh, menenangkan malam yang tenggelam.
Namun bagiku, cahaya itu adalah sembilu,
Menyayat pelan di balik rindu yang membiru.
Karena di setiap tarikan garis bahagiamu,
Ada nama lain yang kau sebut sebagai alasanmu.
Aku berdiri di ambang pintu yang tak pernah terbuka,
Menyaksikan tawa yang kau bagi tanpa jeda.
Indah sekali, sungguh, hingga mataku pedih,
Melihat binar yang bukan untukku kau pilih.
Senyumanmu adalah puisi paling megah,
Sekaligus duka yang paling tabah.
Aku mencintaimu dalam sunyi yang paling luka,
Bahagia melihatmu, meski hatiku hancur tak bersisa.
Sebab senyumanmu adalah surga yang kulihat dari kejauhan,
Tempat yang hanya bisa kukunjungi dalam impian.
Biarlah aku terluka, asal lengkung itu tetap ada,
Meski bukan aku yang menjadi sebab di balik tawa.
Jayapura, 10 Aplir 2026
Karya Melkias Butu

0 Komentar