Di KM 95 dan 105, di pangkuan Siriwo dan Dipa, Suara leluhur bergema merobek keheningan rimba.
Simapitowa bukanlah ruang hampa tanpa nama, Bukan tanah kosong yang bisa ditandai seenaknya.
Papan klaim ditiup angin, ditancapkan tanpa permisi, Berdiri angkuh mengatasnamakan kuasa negeri.
Namun akar tradisi tak mudah ditundukkan besi, Dua hari berselang, ketegangan berbuah aksi.
Tangan-tangan pemuda merawat hak yang diwarisi, Mencabut papan klaim, menolak pasrah pada janji.
Di tempat yang sama, sebuah simbol suci berdiri, Salib Merah tertancap, menyatu dengan bumi Tota Mapiha ini.
Di samping kayu suci, kayu adat menjadi saksi:
“Dilarang menguasai tanah ini tanpa izin pemilik asli.”
Salib Merah penjaga moral, ikatan spiritual yang dalam,
Papan adat pilar hukum, benteng batas dari malam.
Sebab tanah ini milik Tuhan yang Maha Pengasih,
Milik leluhur yang menjaga dari serakah yang pedih,
Milik masyarakat hukum adat yang terus berdiri gigih,
Hutan ini hidup, tak akan menyerah pada klaim yang letih.
Jayapura: 08 September 2026
Karya: Melkias Butu


0 Komentar