![]() |
| Foto Pribadi penulis "Ipou Luring" |
***
Hari ini penuh dengan sejuta sukacita, Tawa dan bahagia bergemuruh di mana-mana. Namun bagiku, ada jenuh yang terus meraba, Enggan menerima riuh yang terasa hampa.
Di dalam zona bahagia, aku merasa ganjil, Segalanya terasa asing dan mengecil, Tak lagi sama dengan hari-lahir yang lalu, Sebelum enago mendahului langkahku.
Dua puluh empat jam, seribu pesan bertamu, Gawai bergetar, namun aku belum puas mematung. Walau hari spesial itu kini telah lewat, Aku masih menunggu sebaris kata yang tersirat Darimu Enago.
Aku tahu, aku hargai segala kesibukanmu, Maka aku setia menanti di sudut waktu, Demi sepotong ucapan yang amat berarti, Dari tanganmu, Enago, Dari Enago paling Yang kunanti, karena dirimulah yang kunanti setiap senja merana diufuk timur.
Sekarang aku tahu, kenyataan begitu nyata, Engkau telah menghadap ke pangkuan Bapak Yahwe di surga, Namun di sisi lain, jiwaku belum siap menerima, Sebab kukira, engkau hanya sibuk dengan urusan kuliahmu sana.
Aku menghargai waktumu, aku menghargai sibukmu, Dan di dalam lubuk hati, aku masih berharap kau menyapaku,
"Tuhan, bisakah beri dia waktu satu menit saja?"
"Untuk sekadar mengucap selamat pada saya?".
Berharap tanpa ujung di momen-momen tertentu, Sukar diikhlaskan, Enai, dadaku terasa membatu, Harapan itu kini putus, patah di tengah jalan, Meninggalkan rindu yang abadi dalam kenangan, Selamanya.
Karya: Ipouw luring

0 Komentar