Puisi
Di atas pasir yang memanjang di teluk ini, Langkahku berat, mengeja jejak yang mulai sunyi.
Jembatan Merah berdiri tegak menatap cakrawala, Namun di sini, di bawah kakiku, segalanya mulai tiada.
Deruk ombak Holtekamp datang menyapa,Membawa asin yang perih di luka yang lama.
Dulu, anginnya membisikkan namamu dan namaku, Kini, ia hanya menderu, menghapus sisa-sisa bayangmu.
Kenangan itu...Ia hilang perlahan, tersapu buih putih yang pecah, Seperti janjimu yang dulu kukira takkan pernah lelah.
Tentang cinta yang kita rakit di tepian pantai,Kini musnah, hancur berkeping tak lagi bersuntai.
Langit senja Papua mulai memerah saga, Mengingatkanku pada perpisahan yang tak disangka.
Sebab ketika aku masih memeluk erat segala janji, Kau telah memilih pelukan lain untuk kau tempati.
Biarlah ombak ini membawa pergi sisanya, Hingga namamu tak lagi bergetar di dalam dada.
Di Holtekamp ini, cinta kita benar-benar karam, Tenggelam bersama matahari yang pulang ke peraduan malam.
Jayapura, 10 Aplir 2036
Karya Melkias Butu

0 Komentar