Langkah Dalam pelukan Doa

 



"Foto Katrin Petege"

***

Tahun dua ribu dua puluh empat,

sebuah langkah kecil kubuka pelan,

memeluk mimpi, harapan, dan doa

yang belum kutahu ke mana arah tujuan.


Di balik ruang FKM,

aku belajar merajut arti kehidupan—

bukan sekadar ilmu kesehatan,

tetapi tentang tetap berdiri saat lelah menekan,

dan percaya, tiap proses menyimpan jawaban.


Kini di ambang semester lima,

langkahku telah menjejak sejauh ini.

Ada derai tawa, ada air mata jatuh sunyi,

hari-hari berat menyapa berganti,

namun Tuhan selalu menopang jemari,

memberi tenaga untuk kembali berlari.


Terima kasih, Tuhan,

atas nafas, kesehatan, dan keteguhan,

membuka jalan menuju masa depan.


Terima kasih, Mama dan Bapa,

atas doa yang tak pernah jeda,

atas pengorbanan tanpa batas jangkau,

menjadi tiang saat hatiku risau.


Untuk Kaka pertama,

terima kasih telah setia menemani,

lewat perhatian dan ketulusan hati,

hal-hal sederhana yang menjadi begitu berarti.


Dari titik awal hingga hari ini,

aku tahu aku tak berjalan sendiri.

Ada Tuhan yang menjaga,

Mama dan Bapa yang mendoakan,

Kaka yang menguatkan,

serta tangan-tangan baik yang Tuhan kirimkan.


Perjalanan ini belum usai,

masih ada bentang asa yang harus dicapai.

Namun sejenak kuberhenti, menoleh ke belakang,

bersujud dengan syukur yang tenang:


Tuhan, terima kasih telah membawaku sejauh ini.

Mama, Bapa, Kaka… terima kasih telah menjadi alasan

setiap langkahku tak pernah patah.

Sebab doa dan perjuangan

tak pernah berujung sia-sia.


Jayapura, 04 Oktober 2026

Karya : Katrin Petege.


Catatan:

Puisi ini mengisahkan perjalanan hidup, perjuangan akademis, serta refleksi rasa syukur seorang mahasiswa yang sedang menempuh pendidikan di Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM). Puisi ini menegaskan bahwa keberhasilan bertahan hingga di titik sekarang bukan hanya hasil usaha pribadi, melainkan berkat penyertaan Tuhan, doa orang tua, dan dukungan keluarga.

Membaca puisi ini seperti diajak menyusuri lorong waktu tentang perjuangan seorang anak yang sedang menuntun mimpinya di perantauan dan bangku perkuliahan. Ada kehangatan yang begitu pekat, ada air mata yang diusap diam-diam, dan ada rasa syukur yang membumbung tinggi.

 langkah yang dimulai dengan penuh ketidakpastian. Menghadapi masa depan yang belum jelas arahnya memang menakutkan, namun puisi ini mengingatkan kita bahwa keberanian terbesarpun sering kali dimulai dari satu langkah kecil yang dipeluk oleh doa.

Bagian paling menyentuh dari perjalanan ini adalah kesadaran bahwa kita tidak pernah benar-benar berjalan sendirian. Di balik keteguhan seorang anak sampai di semester lima, ada nafas Mama dan Bapa yang tak henti menyebut nama anaknya dalam doa, ada pengorbanan tanpa batas yang menjadi benteng saat hati merasa cemas dan ragu.

Perjalanan ini memang masih panjang dan cita-cita masih membentang di depan. Namun, berhenti sejenak untuk menoleh ke belakang, bersujud, dan mengucap terima kasih adalah bentuk kedewasaan iman yang paling indah. Puisi ini menjadi pengingat lembut bagi kita semua: *perjuangan yang dibalut doa orang tua dan penyertaan Tuhan tidak akan pernah berakhir sia-sia.*




Posting Komentar

0 Komentar