![]() |
| Foto Pribadi penulis Abraham Wakei |
Cerpen
Oleh: Abraham Wakei (Abagay)
Aku menapakkan kaki di Jayapura dengan sebuah ransel kecil yang menggelantung di pundak. Di hadapanku, Jalan Raya Abepura membentang riuh, padat, dan bising—sangat kontras dengan kampung halamanku yang tenang seumpama Kali Waga. Di kampung yang jauh dari keramaian kota itulah, sebuah harapan lahir. Harapan dari seorang anak muda yang berani bermimpi dan siap berjuang.
Banyak mimpi yang terbayang-bayang di kepala. Aku teringat pesan guruku dulu sebelum aku berangkat, "Jayapura itu jauh, Abai. Tapi di sana banyak mahasiswa Simapitowa, jadi ko tidak akan kecewa. Di sana mereka tidak hanya melihat satu kampung, tapi mereka merangkul semua pelajar dan mahasiswa dari wilayah Simapitowa."
Namun, teori tidak seindah realitas di hari-hari pertama. Sesampainya di Jayapura, rasa bosan langsung menyergap. Kotanya terasa asing, cuacanya lembap, dan bayang-bayang penyakit malaria membuatku agak ngeri. Ahk, apakah aku bisa bertahan di sini? pikirku skeptis.
"Ade mau mengenal kaka-kaka yang ada di Jayapura?" tanya seorang kerabat suatu hari.
"Iya, Kaka..." jawabku pelan, menyembunyikan ragu.
Bulan pertama menjadi anak rantau rasanya persis seperti belajar berenang tanpa pelampung. Pengap dan megap-megap. Masak sendiri, cuci baju sendiri. Aku menghela napas, berpikir bahwa mungkin inilah yang dinamakan kemandirian. Sunyi dan melelahkan.
Sampai pada suatu sore, kakakku mengajakku ke sebuah lokasi. Begitu sampai, mataku menangkap kerumunan anak muda. Ternyata, mereka adalah kakak-kakak dari Simapitowa.
Di sana, udara dipenuhi suara tawa yang lepas. Mereka saling ejek, bercanda tanpa sekat, seolah beban hidup di kota rantau menguap begitu saja. Itulah momen pertama kalinya aku mengenal RPM SIMAPITOWA (Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Simapitowa).
Bagi sudut pandangku saat itu, RPM SIMAPITOWA bukan sekadar organisasi keren yang identik dengan jas rapat atau selembar sertifikat. Lebih dari itu, tempat ini adalah magnet. Kami—anak-anak Papua dari berbagai kampung halaman yang berbeda—disatukan di bawah payung Simapitowa. Kami memilih berkumpul agar rasa sepi tidak sempat menggerogoti kami di tanah rantau.
Di sini, aku dipanggil “Adik” dengan penuh kehangatan. Kalau aku gagal ujian atau mendapat nilai jelek, tidak ada penghakiman. Sebaliknya, tangan mereka akan menepuk pundakku, "Tra apa-apa Ade, besok kita belajar sama-sama."
Suatu malam, kami duduk melingkar. Asap kopi hitam mengepul di antara kami, beradu dengan angin malam Jayapura. Seorang kakak laki-laki tertua menatap kami satu per satu, lalu berbicara dengan nada dalam:
"Di sini kita bukan cuma mahasiswa. Di sini kita jadi anak, jadi kakak, jadi orang tua buat satu sama lain. Jayapura mungkin jauh dari rumah di kampung. Tapi selama kita ada dan bersatu, Jayapura bisa jadi rumah."
Aku yang duduk menyendiri di pojok sambil memegang secangkir kopi panas, tiba-tiba merasakan kehangatan menjalar ke dada. Detik itu juga, rasanya rindu rumah berkurang setengah. Aku tidak lagi sendiri.
Sejak malam itu, RPM SIMAPITOWA resmi menjadi tempatku berkarya. Kami mulai membangun diskusi-diskusi kecil, bertukar pikiran tentang kepedulian terhadap alam Papua. Aku, yang dulunya cuma bisa diam di dalam rumah dan pemalu, perlahan berubah. Aku mulai berani berdiri di depan banyak orang. Bicara dengan data, dan menyampaikan argumen dengan hati.
Minggu lalu, telepon genggamku berdering. Suara orang tua dari kampung terdengar di seberang sana.
"Bagaimana di Jayapura, Abai? Masih kesepian?"
Aku tersenyum lebar, menatap bendera organisasi di dinding sekretariat. "Tidak, Bapak, Mama. Di sini saya punya rumah baru. Saya punya orang tua lapis kakak-kakak di sini."
Orang tuaku terdiam sebentar di telepon. Lalu, terdengar tawa pelan yang penuh kelegaan. "Bagus kalau begitu. Asal kamu tidak lupa jalan pulang."
"Siaapp, saya tidak lupa," jawabku mantap.
Aku memang tidak akan pernah lupa jalan pulang ke kampung halaman. Tapi lewat perjalanan ini, aku menjadi mengerti satu hal: menjadi dewasa itu bukan cuma soal seberapa jauh kita bisa pergi meninggalkan orang tua. Dewasa adalah soal keberanian untuk membangun rumah baru di tempat yang baru, dan berani menyebut orang lain yang baru kita kenal sebagai keluarga.
Di Kota Jayapura ini, aku belajar hidup mandiri. Namun, aku juga belajar bahwa mandiri bukan berarti harus berjuang sendiri.
Karena rumah, ternyata, tidak melulu soal bangunan kayu atau batu di kampung halaman. Rumah bisa dibangun oleh hati orang-orang yang sama-sama merindu. Dan bagiku, rumah itu bernama RPM SIMAPITOWA.
Penulis adalah Mahasiswa Universitas Cendrawasih (Abay Wakei)

0 Komentar