Asrama Swadaya mengajarkan arti “mandiri, tetapi tidak sendiri"

Di bawah atap Asrama Swadaya RPM SIMAPITOWA bangunan yang sedang dan akan kami dirikan dengan suka-lelah kami sendiri kami, para pelajar dan mahasiswa, tumbuh seperti benih yang belajar mengenal cahaya. Setiap pagi mengajarkan kami arti bangun dan bergerak. Setiap malam mengajarkan kami arti pulang. Dan di antara detik-detik yang diam-diam berlalu, tersembunyi harapan-harapan kecil yang mungkin tidak selalu sempat kami ucapkan.

Kami berharap Asrama Swadaya ini menjadi tempat yang selalu hangat tempat di mana hati kami bisa kembali tanpa ragu; tempat yang merawat luka-luka kecil yang tak terlihat; dan tempat di mana nama kami, pelajar dan mahasiswa seasal Tota Mapiha atau SIMAPITOWA, disebut dengan lembut, meski dunia di luar sering kali terlalu keras untuk kami tanggung seorang diri.

Dalam riuh dan diamnya hari-harimu, kami berharap engkau pengurus, alumni, dan para penjaga rumah ini masih mendengar bisikan kecil di hati kami: bahwa kami membutuhkanmu. Bukan hanya sebagai penjaga Asrama Swadaya, tetapi sebagai pelabuhan tempat kami pulang. Tempat yang menguatkan kami ketika takut, yang memahami impian kami, dan yang sabar mendengar hal-hal yang belum kami pahami tentang kehidupan.

Kami berharap engkau mengerti bahwa langkah-langkah kami kadang goyah oleh berbagai fenomena sosial. Kami sedang belajar menjadi manusia dengan segala proses jatuh dan bangunnya. Dan ketika kami tersandung, janganlah engkau terburu-buru menilai. Cukup ulurkan tanganmu, sebab dari sanalah keberanian kami tumbuh kembali.

Kami berharap Asrama Swadaya ini tetap menjadi rahim cinta tempat doa-doa tumbuh tanpa suara, tempat tawa dan air mata tidak perlu disembunyikan, tempat jiwa-jiwa kami berjuang dengan damai.

Pada akhirnya, kami hanya ingin sepasang mata yang memandang kami dengan bangga. Meski langkah kami belum jauh, meski mimpi kami belum sepenuhnya utuh. Sebab Asrama Swadaya ini, rumah kita bersama, adalah awal perjalanan panjang kami. Di dalamnya, kami menitipkan harapan: agar kasihmu tetap menjadi lampu, dan hati kami menjadi pintu yang selalu terbuka untuk membangun rumah ini bersama.

Kami tumbuh dengan berbagai cerita tawa yang pecah tanpa alasan, tangis yang datang tanpa permisi, dan mimpi-mimpi yang perlahan belajar berjalan di kaki kami sendiri. Dan di balik semua itu, kami menyimpan harapan sederhana namun berarti bahwa Asrama Swadaya ini tetap menjadi hunian yang nyaman dan aman bagi pelajar dan mahasiswa seasal SIMAPITOWA. Tempat yang tidak hanya berisi dinding dan atap, tetapi juga kehangatan, pelukan, dan kata-kata yang menguatkan.

Kami ingin merasa aman, diterima, dan tidak takut dinilai atau dibebani sesuatu yang belum mampu kami tanggung. Kami berharap engkau mendengar suara-suara kami, termasuk kata-kata yang tertahan, yang bahkan kami sendiri tidak selalu tahu cara mengucapkannya. Kadang kami ingin bercerita, tapi bingung harus mulai dari mana. Kadang kami ingin dipeluk, tetapi tangan kami terlalu malu meminta. Kami hanya ingin engkau ada sekadar hadir.

Kami berharap engkau memahami bahwa kami sedang belajar, dan belajar itu tidak selalu mulus. Ada hari kami gagal, ada hari kami malas, ada hari kami mencari jati diri. Dalam proses itu, kami membutuhkan pengertian, bukan sekadar tuntutan. Jadilah cahaya yang membimbing, bukan bayangan yang membuat kami takut melangkah.

Kami berharap rumah ini selalu menjadi ruang cinta, bukan ruang tekanan. Tempat kami belajar menghargai, menolong, dan menjadi manusia yang lebih baik bagi generasi Tota Mapiha mendatang. Tempat di mana doa-doa dilangitkan untuk satu sama lain, bukan kata-kata keras yang saling melukai.

Dan pada akhirnya, kami berharap engkau bangga pada kami sekecil apa pun langkah yang berhasil kami capai. Kami tidak mencari kesempurnaan; kami hanya ingin tumbuh menjadi versi terbaik dari diri kami dengan dukunganmu, kasihmu, dan kesabaranmu.

Karena Asrama Swadaya ini bukan sekadar tempat tinggal. Asrama Swadaya RPM SIMAPITOWA adalah titik awal perjalanan perjuangan kami tempat di mana kerinduan dan harapan kami dititipkan.

Asrama Swadaya bukan hanya bangunan fisik yang berdiri di atas fondasi beton dan dinding yang tegak. Ia adalah ruang sosial, ruang pendidikan, dan ruang pembentukan karakter. Di dalamnya, ratusan cerita tumbuh cerita tentang kedisiplinan, kebersamaan, perjuangan, dan kemandirian.

Asrama ini menjadi rumah kedua bagi pelajar dan mahasiswa dari wilayah SIMAPITOWA yang datang dari kampung-kampung jauh, membawa mimpi besar dan harapan keluarga. Ia hadir sebagai solusi sekaligus kesempatan, terutama bagi mereka yang membutuhkan tempat tinggal layak, aman, terjangkau, dan membangun.

Nama Swadaya mengandung makna “sederhana tetapi memberdayakan”. Filosofi ini tercermin dalam setiap ruang yang akan dibangun. Asrama ini bukan sekadar tempat tidur murah, tetapi cara membuka akses pendidikan yang lebih luas dan adil. Hunian ini dirancang agar biaya hidup tetap terjangkau, sehingga para penghuni dapat fokus pada pendidikan tanpa terbebani biaya sewa rumah yang tinggi.

Asrama Swadaya akan dibangun 2 lantai dengan sekitar60 kamar sederhana yang dapat dihuni 2–4 orang per kamar. Meski tidak mewah, setiap sudutnya dirancang untuk mendukung kehidupan komunal, Ruang belajar bersama, Dapur umum, Aula kegiatan, Ruang ibadah, Area cuci dan jemur

Setiap ruang mengajarkan arti berbagi, merawat fasilitas bersama, dan menghormati aturan demi kenyamanan bersama Di sini, kami bukan hanya belajar ilmu formal, tetapi juga disiplin, tanggung jawab, toleransi, dan kemandirian. Bangun pagi, mengurus kamar, menjaga kebersihan, menjalani aturan, hingga menyelesaikan konflik kecil semuanya adalah bagian dari pembentukan karakter.

Penghuni asrama datang dari berbagai distrik, kampung, dan latar belakang. Perjumpaan ini menciptakan suasana multikultural yang hangat. Aroma masakan berbeda di dapur umum, cerita-cerita dari tanah kelahiran, dan tawa yang memenuhi lorong-lorong melahirkan persaudaraan yang sering dikenang seumur hidup.

Dari asrama swadaya ini, lahir guru, perawat, aktivis, pegawai negeri, bahkan pemimpin masyarakat. Di sinilah banyak mimpi mulai dirawat mimpi yang tumbuh, menyala, dan berjalan.

Pengelolaan asrama tidak mudah. Keterbatasan dana, perawatan bangunan, dan pertumbuhan jumlah mahasiswa menjadi tantangan yang harus dihadapi. Namun dari sini pula lahir kreativitas, Gotong royong membersihkan lingkungan, Iuran solidaritas Pelatihan kepemimpinan, Penguatan organisasi penghuni. (*)


Penulis adalah Blasius Gobai Mahasiswa dan Anggota Aktif Rpm SIMAPITOWA 

Posting Komentar

0 Komentar