Di kaki AB gunung yang teduh, di mana kabut pagi menulis puisi di udara, kami berdiri anak-anak dari lembah, dari pesisir, dari hutan, membawa nama Simapitowa dalam dada yang berdebar.
Kami datang bukan dengan harta, melainkan dengan keyakinan dan tangan terbuka, bahwa rumah bukanlah soal dinding dan atap semata, melainkan tempat tumbuhnya harapan dan persaudaraan.
AB Gunung menatap kami dalam diam yang bijaksana, ia menyimpan kisah perjuangan setiap batu yang kami angkat, ia tahu, peluh yang jatuh di tanah merah ini adalah tanda cinta pada masa depan yang sedang kami bangun.
Hari-hari kami diwarnai suara palu dan tawa, seruan semangat yang bergema di antara pohon dan langit, ada yang menggali, ada yang mengukur, ada yang berdoa, semua berperan dalam simfoni sederhana yang bernama kerja bersama.
Jayapura kota studi, kota harapan, di sinilah kami menenun impian dari serpihan rindu kampung halaman. Kami datang menimba ilmu, namun di sela waktu kami belajar pula tentang arti berdiri di atas kaki sendiri.
Asrama ini bukan sekadar tempat tidur dan meja belajar, tetapi taman kecil di mana semangat tidak pernah layu, tempat kami belajar mencintai tanah air dari jauh, tempat kami saling menguatkan ketika badai rindu datang bertamu.
AB Gunung jadi saksi, bahwa dari tangan-tangan muda yang terbakar semangat, lahirlah tembok yang tegak oleh keyakinan, dan atap yang menaungi mimpi tanpa batas. Angin gunung membawa kabar, tentang anak-anak Simapitowa yang tak gentar menantang terjal, tentang tawa yang menggantikan letih, tentang doa yang menyatu di setiap adukan semen dan batu bata.
Kami tahu, perjalanan belum selesai, masih banyak jalan berliku menanti di depan, tapi setiap langkah kecil hari ini adalah pondasi kokoh untuk generasi yang akan datang.
Maka biarlah gunung, tanah, dan langit Jayapura bersaksi, bahwa di sini pernah berdiri sekumpulan pemuda dan pemudi, yang tak takut bermimpi, yang membangun rumah dari kasih, kerja keras, dan iman yang hidup.
Asrama ini akan menjadi tempat pulang bagi hati yang lelah, akan menjadi rumah bagi cita-cita yang tumbuh, akan menjadi bukti bahwa persaudaraan lebih kuat dari segala perbedaan.
AB Gunung jadi saksi. Dan biarlah waktu yang menulis kelanjutannya, tentang anak-anak Simapitowa yang terus menyalakan api, api pembelajaran, api pengabdian, api cinta pada tanah Papua dan Indonesia tercinta.

0 Komentar