PEMBANGUNAN ASRAMA SIMAPITOWA YANG SEHAT, PILAR KARAKTER, KOMUNITAS, DAN KEPERCAYAAN DIRI

 


Oleh: Melianus Kegiye

Jayapura – Proyek pembangunan fisik Asrama Simapitowa di Kota Jayapura ini bukan sekadar tentang mendirikan dinding dan atap. Esensinya jauh melampaui bata dan semen, karena keberhasilan pembangunan Asrama Simapitowa akan terwujud sempurna hanya ketika kebersamaan kita tetap kokoh. Asrama ini memiliki peran strategis dan fundamental dalam membentuk karakter dan kepribadian generasi muda Papua, khususnya bagi anak-anak Provinsi Papua Tengah di wilayah yang disebut "MAPIHA." Untuk mencapai tujuan mulia ini, fokus kita harus dialihkan dari sekadar aspek fisik menuju pembangunan lingkungan yang secara holistik sehat dan kondusif.

Kesehatan Holistik Asrama: Pilar Akal, Hati, dan Kehendak

Kesehatan sebuah asrama tidak boleh diukur hanya dari kebersihan fisiknya, melainkan dari kedalaman kesehatan mental, moral, dan spiritualitas para penghuninya. Inilah yang menjadi motivasi fundamental yang mendorong kehidupan berkomunitas yang harmonis di Asrama Simapitowa nantinya. Sebuah komunitas yang sehat berakar pada tiga pilar utama yang harus dijaga: Akal budi yang jernih, yang merupakan kompas dalam mengambil keputusan yang tepat untuk kepentingan bersama; Hati nurani yang bersih, yang menjadi pemandu moral dan membimbing penghuni asrama untuk selalu berbuat baik dan menjaga integritas; serta Kehendak bebas yang berani, yang memungkinkan individu untuk menghadapi tantangan dengan penuh percaya diri dan mengambil inisiatif untuk kemajuan bersama. Oleh karena itu, upaya pembangunan Asrama Simapitowa harus berdasarkan persatuan dan kolaboratif. Kita perlu bekerja sama untuk menciptakan lingkungan yang tidak hanya sehat, tetapi juga kondusif dan produktif—sebuah lingkungan yang mendukung penyelesaian pembangunan asrama yang ideal. Dengan menjaga ketiga pilar ini, Asrama Simapitowa Kota Jayapura dapat menjadi model percontohan bagi asrama-asrama lain di seluruh Papua.

Membangun Kepercayaan Diri Kuat dalam Komunitas

Kekuatan suatu komunitas seringkali ditentukan oleh kepercayaan diri kolektif para anggotanya. Kepercayaan diri (self-confidence) adalah kunci kesuksesan, terutama dalam kehidupan berkomunitas. Ketika kepercayaan diri kuat, individu menjadi lebih berani untuk berinteraksi, berbicara, dan berkontribusi secara positif dalam berbagai aspek kemasyarakatan. Pembangunan fisik asrama harus berjalan beriringan dengan pembangunan mental. Untuk memahami bagaimana membangun fondasi mental ini, kita dapat merujuk pada pandangan psikolog humanistik terkemuka, Carl Rogers, yang memiliki pandangan sangat positif mengenai percaya diri.

Menurut Rogers, kepercayaan diri bukan hanya soal keberanian, melainkan kemampuan untuk menerima diri sendiri secara utuh—termasuk segala kelebihan dan kekurangan yang dimiliki—yang disebut sebagai self-acceptance. Rogers menekankan bahwa setiap individu adalah berharga dan mampu, dan keyakinan inilah yang menjadi fondasi utama kepercayaan diri. Lebih lanjut, dalam teori Rogers, percaya diri adalah hasil akumulasi dari pengalaman positif dan dukungan kuat dari lingkungan sekitar, terutama dari significant others (orang-orang penting) seperti orang tua, guru, para senior, dan teman-teman di asrama. Dukungan dari senior dan teman sebaya di asrama menjadi sangat vital, mengingat mereka adalah "keluarga" terdekat di tanah rantau. Praktik yang dapat kita terapkan untuk memperkuat kepercayaan diri di asrama antara lain adalah: menerima diri sendiri dan orang lain dalam hidup kita, memiliki hubungan yang sehat dengan sesama, dan berani mengambil risiko serta mencoba hal baru.

Aksi Nyata untuk Lingkungan Positif

Saya percaya bahwa kepercayaan diri dapat ditingkatkan melalui pengalaman langsung dan interaksi positif. Ketika kita berani mengambil risiko dan mencoba hal baru, misalnya dengan bergabung dengan klub atau organisasi yang sesuai dengan minat dan bakat, kita memperluas jaringan dan memperkuat rasa mampu kita. Ini adalah langkah konkret yang dapat meningkatkan kepercayaan diri. Selain itu, penting untuk memelihara sikap berpikir positif (positive thinking) dan penerimaan diri. Kita harus mengakhiri kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain, sebab setiap individu memiliki garis takdir, kelebihan, dan kekurangan masing-masing. Dengan menerima kelemahan diri sebagai bagian dari proses belajar dan memiliki sikap positif, kita akan menjadi lebih berani mengambil risiko, berinteraksi, dan mencapai kesuksesan dalam hidup berkomunitas. Pembangunan Asrama Simapitowa adalah proyek hati dan pikiran. Dengan berpegangan pada kebersamaan yang kokoh, menjaga akal budi, hati nurani, dan kehendak bebas, serta membangun kepercayaan diri setiap individu melalui self-acceptance ala Carl Rogers, kita tidak hanya akan menyelesaikan bangunan fisik. Lebih dari itu, kita akan melahirkan generasi pemimpin Papua yang berkarakter kuat, mandiri, dan mampu meraih kesuksesan dalam kehidupan berkomunitas.

Penutup: Seruan Aksi untuk Kebersamaan yang Kokoh

Pembangunan Asrama Swadaya Simapitowa adalah proyek yang melampaui kepentingan kelompok. Ini adalah investasi jangka panjang untuk kualitas SDM Papua. Oleh karena itu, keberhasilan proyek ini tidak hanya bergantung pada inisiatif mahasiswa, tetapi juga pada respons kolektif dari seluruh elemen masyarakat. Kami menyerukan kepada Pemerintah Daerah di wilayah MAPIHA dan Provinsi Papua Tengah, para Tokoh Adat dan Agama yang dihormati, serta seluruh Alumni RPM Simapitowa yang telah sukses di berbagai bidang, untuk tidak berpangku tangan. Dukungan yang kami harapkan bukan sekadar bantuan finansial, melainkan pengakuan, dukungan moral, dan kolaborasi strategis dalam membangun infrastruktur fisik dan mental. Hanya dengan kebersamaan yang kokoh, di mana kepedulian terhadap akal budi, hati nurani, dan kehendak bebas menjadi prioritas, Asrama Simapitowa dapat menjadi Hamewa (wadah) yang ideal. Mari kita tunjukkan bahwa generasi muda Papua tidak sendirian dalam perjuangan mereka. Jadi, mari kita mulai membangun kepercayaan diri kita sendiri dan menjadi lebih berani untuk mengambil risiko, karena inilah kunci kesuksesan dalam hidup berkomunitadan menjadi orang yang lebih baik.

Posting Komentar

0 Komentar