Pembangunan Asrama Swadaya Di Jayapura Mulai Nampak

Pembangunan Asrama Swadaya RPM Simapitowa (Siriwo, Mapia, Piyaiye, Topo, dan Wanggar) di Kota Studi Jayapura memasuki babak baru setelah melalui perjalanan panjang penuh harapan dan perjuangan. Gagasan pendirian asrama yang telah dicita-citakan sejak tahun 2007 itu akhirnya mencapai momentum bersejarah melalui peletakan batu pertama pada 25 Oktober 2025 Hingga kini, Sabtu (15/11/2025) Mulai Nampak pembangunannya. 

Momentum tersebut menjadi bukti bahwa semangat mahasiswa RPM Simapitowa tidak pernah padam dalam memperjuangkan mimpi besar: memiliki tempat tinggal yang layak dan representatif bagi pelajar dan mahasiswa asal wilayah Simapitowa di Jayapura.

Bagi mahasiswa Simapitowa, asrama bukan hanya bangunan fisik. Ia merupakan simbol persatuan, perjuangan panjang, serta cinta terhadap generasi penerus. Melalui kehadiran asrama inilah mereka ingin menanamkan nilai solidaritas dan tanggung jawab kepada anak-anak muda Simapitowa di masa depan.

Pembangunan asrama swadaya ini dilakukan dengan semangat gotong royong. Mahasiswa RPM Simapitowa bersama masyarakat dari lima distrik Siriwo, Mapia Timur, Piyaiye, Mapia Barat, dan Wanggar bahu membahu menggalang dana, tenaga, dan dukungan moral.

Sebagai wujud nyata perjuangan, para mahasiswa mengadakan turnamen di Lapangan Kaladiri II Nabire dan berhasil mengumpulkan dana sebesar Rp300 juta. Seluruh dana tersebut diperoleh dari partisipasi dan kontribusi masyarakat lima distrik.

Turnamen itu bukan hanya ajang olahraga, tetapi menjadi simbol persatuan dan tekad bersama. Di balik setiap pertandingan, hadir doa orang tua dan air mata harapan agar anak-anak mereka memiliki tempat tinggal layak di kota studi Jayapura.

Kami mahasiswa Simapitowa di Jayapura mengucapkan banyak terima kasih kepada masyarakat lima distrik yang terus mendukung kami. Doa dan dukungan kalian adalah kekuatan utama kami,” ujar salah satu panitia turnamen.

Dalam proses perjuangan ini, muncul suara dari para intelektual Simapitowa, salah satunya Paskalis Dogomo, S.Ap,, yang terus mendorong percepatan pembangunan asrama.

“Asrama Swadaya RPM Simapitowa ini adalah luka yang belum sembuh. Kami mencintai perjuangan ini, tetapi juga merasakan sakitnya karena belum terwujud. Namun saya akan terus berjuang sampai kapan pun agar asrama ini berdiri,” tegas Dogomo.

Ia menilai, kolaborasi antara mahasiswa, masyarakat, dan pemerintah daerah menjadi kunci utama percepatan pembangunan. Menurutnya, dukungan dari Pemerintah Provinsi Papua Tengah akan menjadi tonggak penting untuk mewujudkan impian ini.

Perjuangan pembangunan asrama ini bukan semata untuk kebutuhan hari ini, melainkan juga demi masa depan anak cucu Simapitowa. Mahasiswa berharap generasi berikutnya tidak lagi merasakan kesulitan serupa ketika menempuh pendidikan di tanah rantau.

Asrama dianggap sebagai simbol kemandirian tempat karakter, solidaritas, dan tanggung jawab sosial ditempa.

 “Orang Papua harus berpikir jauh ke depan. Jangan hanya bahagia hari ini, tetapi pikirkan juga masa depan anak cucu kita. Dari asrama ini, kita sedang menyiapkan generasi yang berkualitas untuk membangun wilayah Simapitowa,” tambah Dogomo.

Pembangunan Asrama Swadaya RPM Simapitowa adalah kisah tentang luka, tekad, dan harapan. Luka karena penantian begitu panjang, tetapi juga harapan karena semangat untuk berdiri tidak pernah padam.

Di tengah segala keterbatasan, mahasiswa Simapitowa tetap percaya bahwa dari doa, air mata, dan kerja keras, akan tumbuh bangunan penuh makna rumah kedua bagi generasi penerus Papua Tengah. 

Posting Komentar

0 Komentar