![]() |
| Kondisi Halaman SD Negeri Tibai |
(Sebuah Seri Puisi dari SD Negeri Tibai)
Di balik bukit Distrik Siriwo yang megah,
Sebuah pintu telah kami buka dengan ramah.
Bukan sekadar bangunan kayu dan atap seng,
Tapi sebuah harapan yang lama kami dendang.
Kami ingin anak-anak kami melihat dunia,
Bisa membaca aksara, mengeja indahnya semesta.
Lincah menuliskan mimpi di atas kertas putih,
Pintar berhitung, agar tak lagi hidup dalam perih.
Namun, ketika matahari meninggi di ufuk timur,
Langkah kaki anak-anak kami terhenti di parit umur.
Ruang kelas itu sunyi, sedingin angin pagi,
Sebab guru yang dinanti, tak kunjung datang kemari.
Papan tulis masih hitam, bersih tanpa coretan, Buku-buku berdebu, menanti sebuah tangan penuh ketulusan.
Sampai detik ini, tak ada satu pun guru yang menetap,
Menyisakan tanya di mata anak-anak yang menatap.
Kepada Penentu Kebijakan, Kepada Pemilik Hati Mulia:
Dengar suara kami dari SD Negeri Tibai,
Di tanah Nabire, Provinsi Papua Tengah yang damai.
Kami tidak meminta kemewahan gedung bertingkat,
Kami hanya butuh sosok guru yang sudi mendekat.
Datanglah, wahai pelita penembus sepi,
Bantu kami memutar roda pendidikan di kampung ini.
Jangan biarkan kerinduan kami menguap jadi sia-sia, Mari bersama, nyalakan masa depan anak-anak Papua.
Karya: Melkias Butu

0 Komentar