![]() |
| Foto pribadi penulis |
Di sudut meja yang sama,
aku masih memesan dua cangkir cerita,
meski kepul uapnya kini hanya menyentuh bayangmu,
yang kian pudar ditelan hiruk pikuk duniamu.
Aku adalah sajak yang kau baca separuh jalan,
lalu kau lipat ujung halamannya dan kau tinggalkan di rak berdebu.
Aku adalah melodi yang sering kau senandungkan,
namun kini kalah oleh bising suara-suara baru.
Cintaku padamu seperti akar di bawah tanah,
tak terlihat, namun dialah yang menjaga pohonmu tetap tegak.
Tetapi bagimu, aku mungkin hanyalah tanah,
yang kau pijak tanpa pernah kau tatap jejaknya.
Ada ribuan kata yang tersangkut di tenggorokan,
tentang bagaimana matamu adalah dermaga terakhirku.
Namun kau terlalu sibuk mengejar samudera lain,
hingga tak sadar kapal ini telah lama karam menunggumu.
Aku mencintaimu dengan sabar yang paling sunyi,
menjadi payung yang kau lupakan saat kemarau tiba,
dan menjadi rumah yang pintunya tak pernah terkunci,
meski aku tahu, kau tak lagi ingat jalan pulangnya.
Biarlah cinta ini tetap menjadi gema,
memantul di dinding hatimu yang semakin asing.
Aku tidak akan memintamu menoleh,
cukup bagiku mencintaimu.
Jayapura, 30 Maret 2026
Karya: Melkias Butu

0 Komentar