PUISI
Di ufuk Dogiyai, fajar Paskah merayap malu,
Tahun ini, lonceng gereja berdentang membawa pilu.
Tak ada tawa yang lepas, tak ada sorak yang bebas,
Hanya aroma luka yang pekat, tertinggal di setiap napas.
Kami dipaksa mengecap cawan derita yang kelat,
Menjemput hari kemenangan dalam dekapan duka yang lekat.
Kemenangan terasa asing di tengah sunyi yang mencekam,
Saat harapan-harapan kami dipaksa untuk padam.
Di sini, kami menyatukan pedihnya hati yang teriris,
Dengan derita Yesus yang tergantung, lemah dan menangis.
Engkau yang tak berdaya di kayu salib yang hina,
Demi memerdekakan umat-Mu dari belenggu perbudakan dunia.
Jika pembebasan memang butuh pengorbanan yang nyata,
Biarlah duka kami ini menjadi doa yang paling hampa.
Sebuah rintihan sunyi yang membumbung ke tahta-Mu,
Memohon agar kebangkitan-Mu segera menyentuh debu.
Hapuslah air mata yang membanjiri bumi Papua,
Biarlah Paskah di Dogiyai tak hanya jadi simbol luka.
Namun menjadi rahim bagi kebebasan yang hakiki,
Di mana keadilan tegak, dan tak ada lagi nyawa yang terhenti.
Sebab di balik nisan dan luka yang kami bawa,
Kami percaya, fajar kebangkitan akan segera tiba.
Jayapura, 05 Aplir 2025
Karya: Melkias Butu

0 Komentar