Puisi
Di persimpangan yang sunyi ini,
Aku berdiri menatap langit yang kian menjauh,
Membawa pergi mimpi-mimpi yang dulu kurajut,
Satu demi satu, luruh menjadi debu di bawah kaki.
Jika esok matahari terbit namun bukan untukku,
Dan jalan yang kupilih ternyata menemui dinding bisu,
Bolehkah aku berhenti sejenak?
Bukan untuk menyerah, tapi untuk bernapas dalam luka yang belum sembuh.
Seringkali hidup adalah teka-teki yang tak terbaca,
Di mana doa-doa yang kusematkan di antara sujud,
Seolah menguap, hilang sebelum sampai ke awan.
Namun, apakah itu berarti aku harus membenci arah angin?
Jika takdir memang tak ingin memihak padaku hari ini,
Aku akan belajar menjadi sahabat bagi sunyi.
Mencoba mengerti bahwa ada kekuatan dalam kekalahan,
Dan ada hikmah yang tertulis di balik setiap penolakan.
Mungkin keberanian bukan hanya tentang memenangkan pertempuran,
Tapi tentang bagaimana tetap berdiri tegak,
Saat seluruh dunia seolah memintamu untuk bertekuk lutut.
Biarlah kecewa ini menjadi pupuk bagi sabar,
Biarlah air mata ini membersihkan pandangan yang kabur.
Sebab jika pintu ini tertutup rapat hingga tak berbekas,
Aku percaya, Tuhan sedang menuntunku ke arah yang lebih luas.
Walau takdir tak memihak,
Aku akan tetap melangkah—meski perlahan.
Karena di ujung lelah, selalu ada tempat untuk pulang,
Dan di balik kegagalan, ada jiwa yang takkan pernah bisa hilang.
Jayapura, 09 Aplir 2026
Karya Melkias Butu
.png)
0 Komentar